Jaga Choke Points dan ALKI, Indonesia Butuh Sistem UUV untuk Hadapi Ancaman Bawah Laut
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Temuan kendara bawah laut nirawak asing (UUV) di Selat Lombok pada 6 April 2026 menyoroti kelemahan sistem deteksi bawah air Indonesia. Menurut Mayjen TNI (Purn) Jan Pieter Ate, UUV yang ditemukan oleh nelayan, bukan oleh Angkatan Laut atau otoritas maritim, menunjukkan kapabilitas deteksi bawah laut masih sangat minim. Hal ini menjadi pembelajaran penting bagi Kementerian Pertahanan dan TNI untuk segera mengisi kekosongan kemampuan yang ada.
Sebagai negara maritim dengan perairan sangat luas, Indonesia perlu memastikan seluruh Choke Points dan Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) terjaga dengan baik. Jan menekankan pentingnya peningkatan kemampuan pertahanan maritim, sementara kemampuan darat perlu ditinjau ulang. Dinamika perkembangan kawasan, termasuk konflik Iran melawan AS dan Israel, juga harus menjadi pertimbangan dalam penguatan pertahanan maritim.
Co-Founder Jakarta Defense Society (JDS), Novan Iman Santosa, menambahkan bahwa pengembangan kekuatan maritim Indonesia harus selaras dengan dinamika dan perkembangan di kawasan. Temuan UUV asing ini memperkuat urgensi untuk mempercepat program penguatan kemampuan maritim agar dapat menjaga kedaulatan wilayah perairan secara efektif.
Bagikan
Berita terkait
Negara-negara Eropa Berlomba Perkuat Pertahanan Maritim, Siapa Paling Unggul?
SINDOnews · 29 Agustus 2026 pukul 19.30
Operasi SAR KMP Putri Yasmin Ditutup: 212 Selamat, Empat Korban Masih Hilang
JPNN.com · 20 Agustus 2026 pukul 07.14
Operasi SAR KMP Putri Yasmin Resmi Ditutup, 4 Korban Masih Hilang
Media Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 18.56
Hari Kedelapan, Tim SAR Kerahkan Helikopter Cari Empat Penumpang KMP Putri Yasmin
Media Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 15.19