Jangan Cepat Membuang Air Hujan dari Kota
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Setiap kali hujan deras mengguyur kota, refleks umum adalah membuang air secepat mungkin dari kawasan permukiman. Drainase diperbesar, saluran dibersihkan, dan pompa dinyalakan. Air dialirkan ke sungai agar segera meninggalkan kota.
Beberapa bulan kemudian saat musim kemarau tiba, air justru dicari untuk menyiram tanaman dan memasok lahan pertanian perkotaan. Cadangan air tanah semakin terbatas. Muncul paradoks: air yang dianggap ancaman saat hujan menjadi sumber daya yang dibutuhkan saat kemarau.
Persoalan kota bukan semata-mata terlalu banyak atau terlalu sedikit air, melainkan cara kota memperlakukan air hujan. Air hujan dapat diubah dari ancaman banjir menjadi sumber daya yang bermanfaat.
Bagikan
Berita terkait
Kasus ISPA di Kabupaten Tasikmalaya Tembus 97.629 Selama Kemarau 2026
Media Indonesia · 17 Agustus 2026 pukul 17.58
Polda Sumsel Salurkan Air Bersih & Sembako untuk Warga Empat Lawang
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 17.10
Kebakaran di Bandung Barat Meningkat Tajam saat Kemarau, Juli Capai 73 Kasus
JPNN.com · 17 Agustus 2026 pukul 16.00
Subak Bali, Kearifan Lokal Menjaga Sumber Air
JPNN.com · 17 Agustus 2026 pukul 13.27