Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Jejak Kejayaan Tas Bogor yang Menemukan Rumah Baru

Industri tas Bogor yang pernah berkibar di kawasan Tajur kini bergeser ke Desa Bojong Rangkas, Ciampea. Pada masa kejayaannya, PT Sumber Karya Indah (SKI) di Tajur mempekerjakan sekitar 50 penjahit yang mampu memproduksi hampir 2.400 tas per minggu untuk memasok department store dan pesanan korporat. Namun sejak dua dekade terakhir, gempuran produk impor, perubahan perilaku belanja, dan bangkitnya marketplace membuat aktivitas produksi di Tajur merosot drastis. Banyak pabrik berhenti beroperasi dan para penjahit kembali ke daerah asal atau membuka usaha mandiri. Saat ini Sugianto (67), penjahit generasi pertama SKI, lebih banyak menangani reparasi tas buatan lama daripada produksi baru.

Kira-kira 20 kilometer dari Tajur, industri tas justru tumbuh di lingkungan rumah warga Ciampea. Suhanda (61) yang belajar menjahit sejak 1980-an kini memproduksi sekitar 300 tas per minggu bersama anaknya. Pandemi COVID-19 mempercepat adopsi pemasaran digital; Adiba Collection misalnya menerapkan model produksi terdistribusi—bahan dipotong di satu lokasi, dijahit di puluhan rumah warga, lalu dikumpulkan untuk dijual via live streaming dan marketplace. Model ini mempertahankan lapangan kerja bagi puluhan keluarga tanpa harus meninggalkan kampung halaman.

Tantangan baru hadang dari kenaikan nilai tukar dolar yang mengikis margin keuntungan akibat mahalnya bahan baku dan aksesori, serta persaingan harga ketat di marketplace. Meski demikian, suara mesin jahit di Bojong Rangkas terus bergema, menandakan industri tas Bogor tidak hilang melainkan beradaptasi dan menemukan basis baru.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait