Kabar Kurang Enak dari Malaysia, Menggema Desakan Reformasi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

OECD menilai Malaysia perlu reformasi baru untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi yang kuat. Laporan menekankan pentingnya pembenahan fiskal, produktivitas, dan pendidikan agar daya saing tetap terjaga. Direktur OECD Luiz de Mello mencatat kemajuan ekonomi Malaysia dalam meningkatkan pendapatan per kapita, tetapi reformasi lanjutan tetap dibutuhkan.
Proyeksi PDB Malaysia melambat dari 5,2% pada 2025 menjadi 4,9% pada 2026 sebelum naik ke 5% pada 2027. Risiko meliputi ketegangan perdagangan global, harga komoditas, dan melemahnya permintaan dunia. Inflasi diperkirakan meningkat. OECD merekomendasikan optimasi belanja dan pendapatan publik, regulasi yang mendukung persaingan, serta perbaikan hasil pendidikan.
Reformasi fiskal mencakup pengalihan subsidi energi ke bantuan tepat sasaran dan perluasan basis pajak. Untuk produktivitas, disarankan mengurangi hambatan masuk pasar dan menciptakan perlakuan setara antara BUMN dan swasta. Di sektor pendidikan, OECD usulkan prasekolah gratis dan wajib, insentif berbasis kinerja bagi guru, serta penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan pasar kerja. Selain itu, tantangan perubahan iklim seperti banjir perlu strategi adaptasi, termasuk peralihan ke energi terbarukan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Berita terkait
Wamen Investasi Sebut Ada Potensi Rp 1.500 T Investasi Tak Terealisasi
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 14.52
Mentrans Terjunkan 1.200 Patriot ke Papua, Dorong Ekonomi Warga
Detik.com · 13 Agustus 2026 pukul 14.06
Ekonomi Tumbuh 5,29 Persen, Kenapa Banyak Sarjana Masih Menganggur?
Liputan6.com · 12 Agustus 2026 pukul 14.28
Survei BI: Sarjana RI Mulai Pede Banyak Lapangan Kerja 6 Bulan Lagi
CNBC Indonesia · 10 Agustus 2026 pukul 12.25