Karakter yang Dibutuhkan Bangsa Indonesia Seperti Apa?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bangsa Indonesia tidak kekurangan orang pintar, melainkan karakter yang menyertai kecerdasan. Sekolah dan perguruan tinggi terus meluluskan lulusan dengan berbagai kompetensi, namun fenomena seperti ketidakjujuran, intoleransi, perundungan, kekerasan verbal, penyebaran informasi tidak benar, rendahnya kepedulian lingkungan, hingga kecenderungan mengutamakan kepentingan pribadi masih muncul di tengah masyarakat. Fenomena ini menunjukkan bahwa kemajuan pendidikan dan teknologi belum otomatis menciptakan karakter yang kuat.
Karakter bukan sekadar hafalan nilai. Menurut Thomas Lickona (2013), karakter mencakup tiga unsur saling terkait: moral knowing (mengetahui nilai baik), moral feeling (memiliki kepedulian terhadap kebaikan), dan moral action (mampu mewujudkannya dalam tindakan). Oleh karena itu, pendidikan karakter harus melibatkan pengetahuan, keteladegan, pembiasaan, dan tindakan nyata agar nilai-nilai seperti kejujuran, toleransi, dan tanggung jawab benar-benar terinternalisasi.
Pembangunan manusia Indonesia tidak cukup hanya mengejar kecerdasan dan keterampilan. Diperlukan manusia yang mampu menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab sebagai manifestasi karakter yang dimiliki. Dengan demikian, kemajuan akademik harus selaras dengan pembentukan karakter yang kuat agar generasi bangsa tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas dan berguna bagi masyarakat.
Bagikan
Berita terkait
Korps Kadet Hadir di Sekolah, Ini Fokus Utamanya
Liputan6.com · 23 September 2026 pukul 18.17
Ekstrakulikuler Korps Kadet Siapkan 8 Kelas Materi Pembelajaran dan Aktivitas Fisik
SINDOnews · 23 September 2026 pukul 16.09
Prabowo Inisiasi Ekskul Kadet untuk SMA-SMK, Kemhan: Bukan Latihan Militer
JawaPos · 23 September 2026 pukul 15.30
Santri Putri Punya Cita-cita Jadi Dokter hingga Pemimpin, Ini Pesan Rustini Muhaimin
JPNN.com · 22 September 2026 pukul 21.20