Jakarta · Minggu, 13 September 2026Cari
WargaKonoha

Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa Dorong Peran Komunitas

Kaukus Masyarakat Peduli Kesehatan Jiwa (Kaukus Keswa) menggelar diskusi lintas komunitas bersama organisasi "Peluk Diri" untuk menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menangani isu kesehatan mental di Indonesia. Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, inisiator Kaukus Keswa dan pendiri Health Collaborative Center, menyatakan bahwa paradigma kesehatan jiwa harus beralih dari pendekatan kuratif yang berpusat pada pengobatan ke pendekatan pencegahan dan dukungan sosial di tingkat akar rumput. Menurutnya, sebagian besar kehidupan manusia berlangsung di keluarga, sekolah, tempat kerja, dan komunitas, sehingga kesehatan jiwa harus menjadi gerakan bersama masyarakat, bukan hanya ditangani di ruang praktik profesional kesehatan.

Kaukus Keswa mendorong agar kesehatan mental menjadi topik perbincangan sehari-hari guna menghapus stigma dan meningkatkan rasa kepemilikan masyarakat. Komunitas dianggap sebagai garda terdekat yang mampu memberikan dukungan awal sebelum seseorang membutuhkan bantuan profesional. Diskusi ini diharapkan menjadi pemantik kolaborasi yang lebih luas antara akademisi, keluarga, tenaga kesehatan, hingga pemangku kebijaman. Dengan menempatkan kesehatan jiwa sebagai bagian integral dari pembangunan manusia Indonesia, diharapkan tercipta ekosistem sosial yang lebih suportif dan tangguh secara mental.

Beberapa temuan terkait kesehatan mental juga disampaikan dalam artikel ini. Studi Griffith University menunjukkan bahwa semaglutide (Ozempic) dapat menurunkan risiko rawat inap psikiatris pada pasien bipolar hingga 21 persen. Survei di Panti Gramesia Cirebon mencatat 849 pasien sejak pembukaan hingga 2023. Kementerian Kesehatan mencatat 7,2 persen dokter butuh evaluasi kesehatan jiwa melalui tes MMPI, sementara IKATAN Psikolog Klinis Indonesia (IPKI) melaporkan banyak remaja mengakses kanal konseling Kemenkes, Healing 119. KPAI juga menegaskan bahwa persoalan kesehatan jiwa anak masih menjadi tantangan serius dalam pemenuhan hak anak.

Berita terkait