Kenapa Partai Ekstrem Dipercaya Pemilih Jerman di Tengah Krisis?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pada pemilihan parlemen daerah di Sachsen-Anhalt, Jerman pada 6 September 2026, partai sayap kanan Alternatif für Jerman (AfD) meraih 43,8 persen suara—peroleman tertinggi dalam sejarahnya. AfD diklasifikasikan sebagai ekstremis sayap kanan oleh badan intelijen dalam negeri Jerman. Hasil ini juga menandakan penurunan signifikan bagi partai konservatif CDU, yang turun dari 37,1 persen pada 2021 menjadi 17,2 persen pada 2026. Kanselir Friedrich Merz menyatakan dirinya "sangat terpukul" oleh hasil tersebut. Dua minggu kemudian, pada 20 September 2026, AfD kembali mendominasi pemilihan di Mecklenburg-Vorpommern dengan 38,2 persen suara, sementara CDU hanya meraih 4,9 persent—gagal melewati ambang batas 5 persen untuk masuk parlemen untuk pertama kalinya dalam sejarah. Di Berlin, partai sosialis Die Linke memenangi pemilu, dengan CDU sebagai runner-up dan AfD di posisi ketiga. Survei IPSOS pada Maret-April 2026 menunjukkan bahwa 18 persen warga Jerman khawatir akan meningkatnya ekstremisme, sementara 82 persen merasa Jerman sedang bergerak ke arah yang salah. Para ahli menjelaskan fenomena ini melalui dua bentuk polarisasi: afektif (meningkatnya kebencian terhadap lawan politik) dan ideologis (terbelahnya masyarakat berdasarkan isu prioritas seperti migrasi vs. krisis iklim). Partai ekstrem kanan berhasil memberikan jawaban sederhana atas persoalan kompleks, memperkuat kepercayaan publik terhadap mereka.
Bagikan
Berita terkait
Kemenimipas Temukan Perbedaan Hasil Sidak Lapas Cibinong dengan Ombudsman
JawaPos · 26 September 2026 pukul 20.15
Jokowi Ungkap Gabung ke PSI Sejak Oktober 2025, Pamer Kartu Anggota
CNN Indonesia · 26 September 2026 pukul 20.13
Rahayu Saraswati Pentaskan Monolog 'Kalau Bukan Aku'
Detik.com · 26 September 2026 pukul 20.09
Anggota MPR Ida Fauziyah Ajak Warga Lenteng Agung Jaga Persatuan dan Kesatuan
SINDOnews · 26 September 2026 pukul 20.07