Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ketika Sungai mengajarkan Arti Kemerdekaan

Artikel ini menggambarkan perjalanan penulis dari kampungnya di Serang Utara hingga Belanda, yang mengubah cara pandangnya tentang hubungan manusia dengan alam, khususnya sungai. Di masa kecil, penulis dan teman-temannya sering mandi dan melakukan aktivitas sehari-hari di kali, tanpa menyadari dampaknya. Pengalaman di luar negeri membuatnya menyadari bahwa alam bukan sekadar sumber daya untuk dimanfaatkan, tetapi juga ruang hidup yang harus dilindungi. Kembali ke Indonesia, penulis menyoroti krisis sampah yang serius, dengan timbulan sampah mencapai 56,63 juta ton per tahun pada 2023, dan 60,99 persen belum terkelola. Di balik angka tersebut, tersimpan persoapan moral tentang cara manusia memandang dan membuang sampah.

Penulis menekankan bahwa isu lingkungan bukan sekadar teknis, tetapi juga konsep moral dan keagamaan. Al-Qur'an dan konsep khalifah di bumi menjadi landasan untuk memandang alam sebagai tanggung jawab bersama, bukan hak untuk dieksploitasi. Menjaga lingkungan menjadi bagian dari kehidupan kewargaan dan keberagamaan. Solusi seperti bank sampah dan prinsip 3R (kurangi, pakai kembali, daur ulang) dapat menjadi medium edukasi, di mana sampah tidak lagi dianggap tidak berguna, tetapi memiliki nilai baru dalam siklus ekonomi.

Akhirnya, penulis menegaskan bahwa perubahan harus dimulai dari kesadaran pribadi hingga kebijakan negara. Kemerdekaan sejati, menurutnya, bukan berarti bebas merusak alam, tetapi kemampuan untuk mengendalikan diri dan memilih bertanggung jawab. Dengan mengganti pola pikir dari 'take, use, throw' menjadi 'take, use, care', kita dapat menciptakan masa depan yang berkelanjutan bagi generasi saat ini dan mendatang.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait