Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kisah Tunanetra Taklukkan Batas hingga Sarjana

Artikel ini mengisahkan tentang dua penyandang tunanetra, Dani dan Juwita, yang berhasil menyelesaikan pendidikan tinggi meskipun memiliki keterbatasan penglihatan. Dani memiliki low vision atau penglihatan lemah, sehingga ia hanya bisa melihat benda besar tetapi tidak detail atau objek kecil, dan menggunakan tongkat khusus untuk mobilitas. Juwita, sebaliknya, mengalami kebutaan total setelah penurunan penglihatan dari usia 10 hingga 20 tahun, dan ia mengandalkan tongkat lipat serta teknologi seperti pembaca layar untuk mengakses materi kuliah. Keduanya menempuh pendidikan tinggi dengan bantuan orang lain dan teknologi, seperti laptop dengan fitur screen reader untuk dokumen teks. Pengalaman mereka menunjukkan tantangan, seperti Dani yang merasa tidak nyaman ketika salah dipahami oleh dosen, dan Juwita yang harus berdiskusi dengan dosen untuk menyesuaikan penilaian dalam mata kuliah fotografi. Mereka menekankan pentingnya akomodasi yang layak, misalnya aksesibilitas digital dan cetakan besar, serta mengingatkan masyarakat dan pendidik untuk tidak langsung berasumsi tetapi menanyakan kebutuhan bantuan. Dani dan Juwita berharap pemahaman tentang disabilitas penglihatan meningkat, sehingga setiap individu mendapatkan akses yang sama dalam pendidikan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait