Kodam Baru dan Risiko Inflasi Jenderal
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pembentukan enam Kodam baru pada HUT ke-81 TNI (5 Oktober 2026) merupakan reorganisasi pertahanan dengan konsekuensi politik, militer, dan anggaran. Secara doktrinal, memperpendek rentang kendali komando dapat mempercepat pengambilan keputusan dan respons terhadap ancaman di wilayah kepulauan Indonesia. Namun, pertanyaan kritis: penambahan Kodam berarti penambahan kekuatan pertahanan atau menciptakan inflasi struktur dan jenderal? Enam Kodam baru menambah enam Pangdam, serta struktur organisasi, staf, fasilitas, personel, anggaran, kendaraan, perumahan, logistik, dan jaringan satuan. Militer modern dinilai dari kemampuan mendeteksi ancaman, pengambilan keputusan cepat, penguasaan informasi, mobilisasi, dan presisi, bukan jumlah jenderal. Tantangan terbesar TNI adalah modernisasi kemampuan tempur melalui peningkatan radar, satelit, drone, sistem komando dan kendali, pertahanan udara, peperangan elektronik, siber, kapal perang, kapal selam, pesawat tempur, rudal, serta sistem ISR. Jika anggaran terbesar diserap untuk struktur organisasi baru, modernisasi teknologi tertinggal, sehingga reorganisasi dapat menjadi kontraproduktif.
Bagikan
Berita terkait
Presiden Prabowo Resmikan 204 Satuan Baru TNI pada Peringatan HUT ke-81 TNI
Warta Ekonomi · 5 Oktober 2026 pukul 13.59
HUT TNI: Jokowi dan SBY Duduk Bersebelahan
JPNN.com · 5 Oktober 2026 pukul 12.00
Prabowo Resmikan 6 Kodam Baru di HUT ke-81 TNI
kumparan · 5 Oktober 2026 pukul 09.54
HUT ke-81 TNI, Prabowo Resmikan 6 Kodam dan Ratusan Satuan Baru
Liputan6.com · 5 Oktober 2026 pukul 07.54