Jakarta · Minggu, 30 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kodok Merah Jawa Barat, Amfibi Dilindungi yang Terancam Punah karena Habitat Terbatas

Kodok merah (Leptophryne cruentata) adalah amfibi endemik Jawa Barat yang hanya ditemukan di dua kawasan: Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak. Populasi alami satwa ini diperkirakan hanya sekitar 800 hingga 1.000 individu, menurut pemetaan yang dilakukan Institut Pertanian Bogor (IPB). Keterbatasan persebaran ini membuat kodok merah sangat rentan terhadap ancaman, terutama karena kedua kawasan habitatnya merupakan gunung api yang masih aktif. Jika terjadi bencana besar di salah satu lokasi, populasi dapat mengalami penurunan drastis hingga punah, karena kodok merah tidak mudah pindah ke area lain seperti hewan besar lainnya.

Upaya konservasi dilakukan oleh Taman Safari Indonesia (TSI) melalui program breeding yang dimulai pada 2022. Awalnya, 16 individu menjadi bagian dari program ini, dan hingga kini koleksi konservasi telah mencapai lebih dari 100 anakan hasil breeding di samping indukan dewasa. Program ini penting meskipun kodok merah mampu berkembang biak secara alami, mengingat jumlah dan persebaran populasi yang terbatas. Selain itu, kodok merah juga berperan penting dalam ekosistem sebagai kontrol hama, pengurai bahan organik, dan sebagai mangsa bagi ular dan satwa kecil lainnya.

Kodok merah juga sensitif terhadap kualitas lingkungan, sehingga keberadaannya dapat menjadi indikator kesehatan ekosistem. Fase kececonya bahkan berperan dalam mengontrol kualitas air, sehingga kontaminasi air oleh bahan kimia seperti sabun dapat mengancam kelangsungan hidupnya. Untuk itu, TSI juga melakukan edukasi kepada masyarakat dan wisatawan agar tidak merusak habitat secara tidak disengaja. Penelitian tentang kodok merah di Indonesia masih sangat terbatas, dengan kurang dari 10 jurnal ilmiah yang tersedia, sehingga pengetahuan tentang spesies ini masih perlu dikembangkan lebih lanjut.

Berita terkait