Konten Misleading Dinilai Lebih Berbahaya daripada Hoaks, Ini Alasannya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Konten misleading di media sosial dinilai lebih berbahaya dibandingkan hoaks karena menggabungkan fakta sekaligus manipulasi konteks. Menurut Setiawan Hendra Kelana, Ketua PWI Jawa Tengah, kecepatan penyebaran informasi sering kali lebih unggul dari akurasi, sehingga masyarakat lebih mudah percaya dan menyebarkan konten yang menyesatkan. Hoaks sepenuhnya tidak benar, sementara konten misleading mengandung fakta tetapi disajikan dengan konteks yang dipotong atau dimanipulasi.
Iwan menjelaskan bahwa konten misleading memiliki berbagai bentuk, seperti judul clickbait yang menyesatkan, pemotongan video tokoh publik, penggunaan kembali foto bencana lama, hingga cherry-picking data untuk membangun persepsi tertentu. Ia menekankan bahwa "kebenaran yang dipotong setengah-setengah dapat menjadi kebohongan yang utuh".
Ipda Dodi Handoko dari Polda Jawa Tengah mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan kecepatan sebagai prioritas utama dalam menyebarkan informasi. Informasi yang viral tetap harus didasarkan pada fakta dan akurasi, karena kesalahan informasi yang tersebar luas dapat menimbulkan dampak yang lebih besar, termasuk persoalan hukum.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 20.20
NASA Ungkap Fakta Gravitasi Bumi yang Menghilang
Berita terkait
Prabowo: Jangan Percaya Semua di Medsos, Mereka Ingin Kita Lemah
Detik.com · 19 September 2026 pukul 12.58
Hoaks! Suahasil Nazara Disebut Terlibat Korupsi Rp500 Triliun
Warta Ekonomi · 17 September 2026 pukul 10.43
Vaksin HPV Bikin Anak Laki-Laki Impoten? Pemprov Jateng Tegaskan Klaim Ini Hoaks
Media Indonesia · 16 September 2026 pukul 22.09
BMKG Klarifikasi Tangkapan Layar Medsos Setkab Hasil Rekayasa
Media Indonesia · 11 September 2026 pukul 13.19