Konten Misleading Dinilai Lebih Berbahaya daripada Hoaks, Ini Alasannya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Konten misleading di media sosial dinilai lebih berbahaya dibandingkan hoaks karena menggabungkan fakta sekaligus manipulasi konteks. Menurut Setiawan Hendra Kelana, Ketua PWI Jawa Tengah, kecepatan penyebaran informasi sering kali lebih unggul dari akurasi, sehingga masyarakat lebih mudah percaya dan menyebarkan konten yang menyesatkan. Hoaks sepenuhnya tidak benar, sementara konten misleading mengandung fakta tetapi disajikan dengan konteks yang dipotong atau dimanipulasi.
Iwan menjelaskan bahwa konten misleading memiliki berbagai bentuk, seperti judul clickbait yang menyesatkan, pemotongan video tokoh publik, penggunaan kembali foto bencana lama, hingga cherry-picking data untuk membangun persepsi tertentu. Ia menekankan bahwa "kebenaran yang dipotong setengah-setengah dapat menjadi kebohongan yang utuh".
Ipda Dodi Handoko dari Polda Jawa Tengah mengingatkan agar masyarakat tidak menjadikan kecepatan sebagai prioritas utama dalam menyebarkan informasi. Informasi yang viral tetap harus didasarkan pada fakta dan akurasi, karena kesalahan informasi yang tersebar luas dapat menimbulkan dampak yang lebih besar, termasuk persoalan hukum.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 20.20
NASA Ungkap Fakta Gravitasi Bumi yang Menghilang
Berita terkait
Video Demo Lama Viral Lagi, Hati-hati Penggiringan Opini
Detik.com · 11 Agustus 2026 pukul 13.03
KPI Usul Literasi Media dan Digital Masuk Kurikulum Sekolah
SINDOnews · 11 Agustus 2026 pukul 06.15
Bappisus Minta Warga Tak Asal Percaya Info di Medsos, Bicara AI-Deepfake
Detik.com · 10 Agustus 2026 pukul 21.06
Pimpinan Komisi XIII Duga Ada Dalang di Balik Konten Hoaks Demonstrasi
JPNN.com · 10 Agustus 2026 pukul 15.10