Krisis Iklim Bebani Ekonomi Eropa, Kerugian Tembus Rp17.000 Triliun
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Dampak perubahan iklim dan cuaca ekstrem semakin membebani perekonomian Uni Eropa, dengan total kerugian ekonomi mencapai 822 miliar euro atau setara Rp17.000 triliun sepanjang periode 1980 hingga 2024. Laporan Badan Lingkungan Eropa (EEA) mencatat sekitar seperempat dari total kerugian finansial tersebut terjadi hanya dalam empat tahun terakhir, menandakan lonjakan frekuensi dan intensitas bencana alam di kawasan tersebut.
Kondisi ini menambah tekanan berat pada ruang fiskal negara-negara Uni Eropa yang rata-rata defisit publiknya telah menyentuh 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Pemerintah kini dihadapkan pada dilema prioritas anggaran, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan belanja pertahanan dan pembiayaan populasi lansia. Bencana besar seperti banjir dahsyat di Spanyol pada 2024 diproyeksikan menelan biaya rekonstruksi hingga 0,7% dari total output ekonomi, disusul ancaman kebakaran hutan barat daya Eropa dan banjir di Jerman.
Situasi diperparah oleh kesenjangan proteksi finansial, mengingat rata-rata hanya 25% kerugian bencana iklim yang ditanggung oleh pihak asuransi, bahkan di beberapa wilayah angkanya berada di bawah 5%. Rendahnya penetrasi asuransi ini memaksa kas pemerintah menanggung beban utama pemulihan infrastruktur.
Bagikan
Berita terkait
Krisis Iklim Bisa Bikin Manusia Makin Kesepian
CNN Indonesia · 10 Agustus 2026 pukul 16.00
Sungai Eropa Kritis, Adakah yang Bisa Diselamatkan?
Detik.com · 10 Agustus 2026 pukul 13.46
China Siaga di Hadapan AS-Eropa, Muncul "Garis Merah" Ekonomi
CNBC Indonesia · 3 Agustus 2026 pukul 14.35
Bahlil Minta Menteri-Kader Golkar Jangan Antikritik
kumparan · 18 Agustus 2026 pukul 22.57