Jakarta · Jumat, 28 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

La Hua

Presiden Prabowo Subianto membuka Muktamar ke-32 Nahdlatul Ulama di Jombang, Jawa Timur, dengan menyampaikan sebuah ayat Arab yang dianggap mengandung pesan tersembunyi. Ayat tersebut, "la miftaha wa la yahya", diartikan oleh sebagian besar anggota NU sebagai sinyal bahwa tidak ada keinginan untuk memilih kembali Kiai Miftah dan Kiai Yahya sebagai pemimpin utama organisasi tersebut. Bunyi "la" dalam bahasa Arab berarti "tidak", sementara "wa" berarti "dan", sehingga pesannya cukup jelas bagi mereka yang memahami konteks keagamaan dan politik NU.

Konflik antara Kiai Miftah dan Kiai Yahya telah berlangsung intens selama dua tahun terakhir, bahkan berujung pada munculnya tokoh ketua umum tandingan dalam struktur kepengurusan NU. Meskipun demikian, kedua tokoh tersebut masih diinginkan oleh sebagian besar pendukung masing-masing untuk kembali memegang posisi strategis. Kiai Miftah masih dijagokan untuk menjadi Rais Am, sementara Kiai Yahya juga ingin kembali menjadi Ketua Umum NU.

Beberapa tokoh senior NU, termasuk Gus Ipul (Saifullah Yusuf) yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal PBNU dan Menteri Sosial di kabinet Prabowo, tampak mendukung gagasan untuk memasangkan Kiai Miftah sebagai Rais Am bersama Gus Kikin sebagai Ketua Umum. Langkah ini diharapkan dapat menjadi jalan tengah untuk menyelesaikan perselisihan internal yang telah lama berkepanjangan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait