Jakarta · Sabtu, 3 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Mandat Diperluas, Bahlil Dinilai Mampu Mengakselerasi Hilirisasi & Transisi Energi

Bahlil Lahadalia ditunjuk sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sambil tetap menjabat Menteri ESDM. Penggabungan peran ini diharapkan memperkuat integrasi kebijakan antara hilirisasi mineral, ketahanan energi, dan industrialisasi nasional. Menurut ekonom Fatkur Huda dari Universitas Muhammadiyah Surabaya, keterkaitan erat antara kedua sektor tersebut karena hilirisasi mineral membutuhkan pasokan energi besar, sementara daya saing industri ditentukan oleh energi yang kompetitif dan rendah emisi. Investasi hilirisasi pada Semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun, setara dengan 29,7 persen dari total investasi nasional. Dari jumlah tersebut, Rp206,5 triliun berasal dari sektor mineral, dengan kontribusi terbesar dari nikel (Rp71 triliun), bauksit (Rp53,8 triliun), tembaga (Rp37,4 triliun), dan besi serta baja (Rp30,2 triliun). Posisi Bahlil sebagai Menko sekaligus Menteri ESDM diharapkan mampu menghubungkan kebijakan pertambangan, energi, hilirisasi, dan investasi secara lebih terpadu. Produksi nikel olahan Indonesia telah mencapai lebih dari 1,4 juta ton per tahun, setara dengan 41 persen produksi global, meningkat drastis dari sekitar 22 ribu ton pada 2014. Hilirisasi juga berkembang ke komoditas lain seperti tembaga dan emas. Smelter Freeport di Gresik memiliki kapasitas pengolahan 3 juta ton konsentrat per tahun dengan potensi produksi 800 ribu ton katoda tembaga dan 50 ton emas. Sementara itu, SGAR Mempawah memiliki kapasitas sekitar 1 juta ton alumina per tahun.

Berita terkait