Jakarta · Rabu, 9 September 2026Cari
WargaKonoha

Melintasi Anak Krakatau, Mengarungi Tepi Kaldera

Pada Minggu, 16 Agustus 2026, sekelompok jurnalis dari kumparan melintasi Anak Krakatau di perairan Selat Sunda. Sebelumnya, Polhut BKSDA memberi instruksi agar hanya melintas, menjaga jarak aman, dan tidak menepi. Anak Krakatau terlihat dengan asap tipis di puncaknya, sementara Gunung Rakata yang lebih tinggi berdiri di sisi kanannya. Kapal melintas di atas tepian kaldera Krakatau yang berada 100–250 meter di bawah permukaan laut. Anak Krakatau pertama kali muncul pada 1927 dan pernah mencapai ketinggian 338 meter pada 2018 sebelum meletus, menyebabkan tsunami Selat Sunda. Sejak itu, gunung ini kembali tumbuh hingga ketinggian sekitar 157 meter di atas permukaan laut, dengan bagian bawah lautnya mencapai 200–250 meter, sehingga total ketinggiannya sekitar 350–400 meter.

Pukul 17.06 WIB, saat kapal bersiap untuk kembali, abu vulkanik tiba-tiba muncul dari kawah Anak Krakatau. Menurut PVMBG, kolom abu mencapai 200–350 meter di atas puncak kawah. Ini menandakan kembali aktivitas erupsi gunung berapi. Nakhoda kapal segera memutar kemudi dan menjauhkan kapal dari lokasi tersebut. Erupsi ini masih relatif kecil dibandingkan dengan letusan besar pada 2018, namun menunjukkan bahwa Anak Krakatau tetap aktif dan perlu pengawasan ketat.

Dua puluh hari setelah kejadian, Anak Krakatau kembali erupsi dengan menyemburkan lava pijar dan debu vulkanik hingga ke Bogor. Sayangnya, dua hari setelahnya, lima jurnalis dilaporkan hilang saat sedang meliput aktivitas gunung berapi tersebut. Mereka disatukan dalam doa agar ditemukan sehat dan selamat. Anak Krakatau tetap menjadi bagian dari Cagar Alam Kepulauan Krakatau yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam KLHK, dan aktivitasnya terus dipantau oleh PVMBG.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait