Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Memuliakan Proklamasi

Artikel ini membahas perjalanan ekonomi Indonesia sejak kemerdekaan. Pada awalnya, Indonesia tidak memiliki modal ekonomi yang kuat, dengan mayoritas penduduk berstatus ekonomi lemah. Proklamasi didorong oleh ideologi dan tekad, bukan kekuatan ekonomi. Selama Orde Lama, rencana Pembangunan Semesta Berencana gagal dijalankan akibat ketidakstabilan politik. Pada era Orde Baru, stabilitas politik mendorong pertumbuhan ekonomi, dengan pendapatan per kapita naik dari 56 dolar AS pada 1967 menjadi 1.155 dolar AS pada 1996, namun ketimpangan dan praktik ekonomi tidak adil berujung pada krisis 1998.

Pasca Reformasi, berbagai presiden menerapkan kebijakan berbeda. Era SBY menekankan stabilitas dan disiplin fiskal, sementara era Jokowi fokus pada pembangunan infrastruktur dan perlindungan sosial. Saat ini, Indonesia menghadapi tantangan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Data perbandingan menunjukkan bahwa pada 2026, pendapatan per kapita Singapura mencapai 107.758 dolar AS, Korea Selatan 37.412 dolar AS, Tiongkok 14.874 dolar AS, sementara Indonesia hanya 5.362 dolar AS. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia berada di peringkat 113 dunia, jauh di bawah negara-negara tersebut.

Pelajaran utama adalah pentingnya stabilitas politik, perencanaan jangka panjang yang konsisten, dan peningkatan kualitas manusia untuk mewujudkan ekonomi yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait