Mengapa Orang Suka Pamer Kekayaan? Teori Veblen Menjelaskannya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Thorstein Veblen, ekonom abad ke-19, memperkenalkan konsep 'conspicuous consumption' atau konsumsi mencolok dalam bukunya The Theory of the Leisure Class (1899). Teori ini menjelaskan bahwa manusia sering membeli barang mewah bukan karena kegunaan praktisnya, melainkan untuk mendapatkan pengakuan, prestise, dan status sosial. Veblen melihat konsumsi sebagai alat komunikasi sosial untuk menunjukkan kekayaan dan posisi seseorang dalam hierarki masyarakat.
Selain konsumsi barang, Veblen mengidentifikasi 'conspicuous leisure' (pamer waktu luang) dan 'conspicuous waste' (pemborosan mencolok) sebagai simbol status. Terdapat pula fenomena 'pecuniary emulation', di mana individu meniru pola konsumsi kelas atas agar tidak terlihat tertinggal. Di era modern, perilaku ini semakin diperkuat oleh media sosial yang menjadi panggung performatif untuk memamerkan simbol kekayaan demi mendapatkan perhatian dan pengakuan sosial.
Bagikan
Berita terkait
Rosan Roeslani Yakini Menkeu Baru Suahasil Nazara Bawa Dampak Positif Bagi Fiskal RI
JPNN.com · 14 September 2026 pukul 18.06
Jelang Rapat The Fed, Trump: AS Harus Punya Suku Bunga Terendah di Dunia
Liputan6.com · 14 September 2026 pukul 18.05
Ekonom Beberkan PR Besar Suahasil: dari Fiskal hingga Daya Beli Warga
CNBC Indonesia · 14 September 2026 pukul 18.03
Suahasil Nazara Ditunjuk jadi Menkeu, Hans Kwee: Pasar Respons Positif Lewat Intraday Rebound IHSG
JawaPos · 14 September 2026 pukul 18.00