Jakarta · Kamis, 10 September 2026Cari
WargaKonoha

Mengenang Rencana Megaproyek Era Kolonial: Kereta Gantung Padang–Sitinjau Lauik

Pada awal abad ke-20, pemerintah kolonial Hindia Belanda merencanakan pembangunan kereta gantung (cable car) di Kawasan Soebang Pas, yang kini dikenal sebagai Sitinjau Lauik, Padang. Rencana ini ditujukan sebagai sarana transportasi umum untuk menghubungkan pusat kota Padang dengan kawasan perbukitan yang lebih sejuk di ketinggian sekitar 500 meter di atas permukaan laut. Ide ini muncul sebagai respons terhadap pertumbuhan ekonomi di pesisah barat Sumatra yang menarik banyak pekerja ahli dari Eropa, yang membutuhkan hunian nyaman di iklim sejuk pegunungan.

Rencana teknis proyek melibatkan kolaborasi dengan perusahaan ahli dari Swiss, Die Schweizerische Drahtbahn Bau G.m.b.H., untuk merancang sistem kereta gantung dengan kecepatan 60 km/jam. Jarak rute sekitar 10 kilometer hanya memerlukan 22 tiang penyangga dengan jarak rata-rata 500 meter. Proyek juga dirancang untuk menghindari risiko bencana alam seperti tanah longsor yang sering terjadi di jalur darat biasa. Rute harus bersilangan dengan jalur lori gantung milik NV Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij (PT Semen Padang), yang diselesaikan dengan elevasi setengah meter di atas jalur lori.

Dokumen sejarah menunjukkan bahwa draf proyek telah dikirim ke Bandung untuk ditinjau dan disetujui, sementara otoritas Padang sedang mendata calon penghuni dan investor. Meskipun rencana ini akhirnya tidak terwujud dan tersimpan dalam arsip kolonial, visi menghubungkan kota dengan kawasan perbukitan melalui transportasi yang aman dan efisien tetap relevan hingga kini, sejalan dengan pembahasan megaproyek Flyover Sitinjau Lauik yang sedang dilaksanakan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait