Jakarta · Senin, 7 September 2026Cari
WargaKonoha

Paradoks Beasiswa Prestasi

Artikel ini menggali paradoks beasiswa prestasi yang tampak adil namun justru memperlebar kesenjangan. Logikanya, yang paling berprestasi layak dapat sumber daya tambahan. Namun, kesempatan untuk meraih prestasi tidak pernah didistribusikan secara merata. Anak dari keluarga mampu biasanya dilengkapi dengan sekolah layak, waktu luang, biaya les dan pelatihan, transportasi ke kompetisi, serta dukungan keluarga. Di sisi lain, anak yang hidup dalam keterbatasan mungkin memiliki kemampuan setara, tetapi kesulitan mengubahnya menjadi prestasi yang diakui karena minimnya akses dan dukungan.

Studi yang dipimpin oleh Raj Chetty menelusuri 1,2 juta penemu di Amerika Serikat dan menemukan bahwa anak dari keluarga 1% terkaya sepuluh kali lebih mungkin menjadi penemu dibandingkan anak dari keluarga berpendapatan di bawah rata-rata. Bahkan ketika membandingkan anak-anak dengan kemampuan matematika tinggi sejak kelas tiga SD, anak berbakat dari keluarga kaya tetap lebih mungkin menjadi penemu. Ini membuktikan bahwa kemampuan yang setara tidak selalu menghasilkan pencapaian yang setara. Para peneliti menyebut anak berbakat yang tak pernah sempat berkembang sebagai "Einstein yang hilang".

Di Indonesia, data BPS menunjukkan hanya sekitar sepertiga penduduk usia kuliaah yang berhasil masuk ke perguruan tinggi. Jika dilihat dari kemampuan ekonomi, disparitasnya sangat lebar: lebih dari separuh anak dari keluarga pengeluaran tertinggi menempuh perguruan tinggi, sementara kurang dari seperlima dari keluarga pengeluaran terendah. Saringan awal sudah terjadi jauh sebelum prestasi dinilai, karena biaya seperti les persiapan masuk, kursus bahasa Inggris, dan uji IELTS/TOEFL yang menjadi syarat beasiswa (misalnya LPDP) justru menjadi beban yang tidak semua keluarga mampu. Program seperti KIP Kuliah dan LPDP masing-masing melayani kebutuhan ekonomi dan prestasi, namun kriteria prestasi justru cenderung menguntungkan mereka yang sudah kaya modal budaya dan ekonomi.

Berita terkait