Parfum Berkualitas Dinilai dari Performa, Bukan Sekadar Semprotan Pertama
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Konsumen parfum di Indonesia kini mulai mengubah kriteria pemilihan produk wewangian. Jika sebelumnya aroma pada semprotan pertama menjadi pertimbangan utama, semakin banyak pembeli yang memperhatikan ketahanan aroma, wangi di kulit, serta kenyamanan saat dipakai sepanjang hari.
Founder Best Perfume Store, Josh Frost, menjelaskan bahwa iklim tropis Indonesia dengan suhu hangat dan kelembapan tinggi membuat parfum bereaksi berbeda di kulit. Aroma terus berkembang seiring waktu sehingga kualitas parfum tidak bisa dinilai hanya dalam hitungan menit. Banyak konsumen mengeluh bahwa aroma tidak bertahan seperti saat dicoba di toko, padahal semprotan pertama hanya menunjukkan sebagian kecil karakter parfum.
Kualitas sebenarnya parfum baru terlihat pada fase dry-down, yaitu ketika aroma awal mulai menguap dan karakter utama muncul. Fase ini umumnya terjadi setelah delapan hingga sepuluh jam pemakaian. Pada tahap itulah formulasi, konsentrasi fragrance, dan kualitas bahan baku benar-benar menentukan apakah sebuah wewangian mampu mempertahankan aromanya secara optimal.
Bagikan
Berita terkait
Perkuat Bisnis di Indonesia, Bata Fokus pada Produk, Kesederhanaan, & Relevansi Konsumen
JPNN.com · 26 September 2026 pukul 19.04
Ipsos Growth Forum 2026: Pertumbuhan Brand Tak Hanya Ditentukan Preferensi Konsumen
JawaPos · 23 September 2026 pukul 21.30
IKM Parfum Indonesia Tembus Pasar Papua Nugini, Kirim Produk Senilai Rp707 Juta
Warta Ekonomi · 16 September 2026 pukul 16.20
Mengintip Geliat Ekonomi Condet, Mulai Jual Parfum hingga Restoran Kebuli
kumparan · 30 Agustus 2026 pukul 17.50