Paris Jackson Ungkap Pengalaman Menyakitkan Jalani ECT, Studi Temukan Perbedaan pada Pasien Perempuan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Paris Jackson, putri Michael Jackson, mengungkap pengalamannya menjalani terapi elektrokonvulsif (ECT) sebanyak sembilan kali dalam tiga minggu setelah dekat dengan bunuh diri. Ia menggambarkan rasa sakit kepala yang sangat hebat saat bangun dari anestesi dan mengalami amnesia, sehingga tidak dapat mengingat interaksi dengan teman-teman. Meskipun ECT "bekerja" baginya, ia menilai terapi bulanan sepanjang hidup tidak berkelanjutan.
Studi internasional yang diterbitkan di jurnal Health Care for Women International melibatkan 858 peserta dari 44 negara dan menemukan perempuan cenderung lebih sedikit melaporkan perbaikan suasana hati setelah ECT dibandingkan laki-laki. Perempuan juga melaporkan efek samping yang lebih buruk, seperti gangguan ingatan jangka pendek dan panjang. Sejumlah peneliti yang terlibat dalam studi ini, seperti Lisa Morrison dan Sarah Hancock, juga mengalami gangguan ingatan yang signifikan setelah menjalani ECT.
Studi tersebut mengungkapkan bahwa 36,8% perempuan merasa dipaksa untuk menjalani ECT, dibandingkan 22,4% laki-laki. Hanya 49,9% perempuan merasa sukarela, dibandingkan 63,5% laki-laki. Selain itu, hanya 15% perempuan bersedia mengulangi ECT, dibandingkan 29% laki-laki. Para penulis studi memiliki pandangan berbeda mengenai masa depan ECT, namun semua setuju bahwa penelitian dan informasi kepasien perlu diperbarui.
Bagikan
Berita terkait
Ibu Aniaya Anak Kandung Hingga Tewas di Pamekasan, Diduga Depresi Usai Cerai
Detik.com · 19 Agustus 2026 pukul 13.26
WNA Amerika Dituntut 1,5 Tahun di Bali, Cukup Klaim Ganja untuk Obat Depresi
JPNN.com · 19 Agustus 2026 pukul 07.24
Pola Bahasa Anak Bisa Prediksi Risiko Depresi dan Kecemasan hingga Enam Tahun
VOI · 18 Agustus 2026 pukul 17.15
Paris Jackson Buka Suara Soal Kecanduan, Dampak Fisik, dan Perjuangan Melawan Rasa Kesepian
Media Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 04.45