Jakarta · Senin, 28 September 2026Cari
WargaKonoha

Pendidikan Perdamaian untuk ASEAN: Refleksi Filipina 2026

Konferensi ASEAN Peace Education High-Level Conference digelar 22-23 September 2026 di Quezon City, Filipina, dengan tema 'Peace Education for Shared Futures and Enduring Cooperation'. Diselenggarakan oleh OPAPRU Filipina bekerja sama dengan Department of Education, Philippine Center for Islam and Democracy, dan KAICIID, konferensi ini dihadiri lebih dari 400 peserta termasuk pemimpin pendidikan, akademisi, praktisi perdamaian, dan kaum muda dari berbagai negara ASEAN. Acara ini tidak hanya menjadi forum pendidikan, tetapi juga diskusi strategis tentang masa depan perdamaian di kawasan dan dunia. Dengan mengakui kontras antara kekayaan keberagaman budaya ASEAN dan realitas polarisasi, disinformasi, serta kekerasan simbolik yang dihadapi generasi muda, konferensi menekankan pentingnya pendidikan perdamaian sebagai investasi untuk ketahanan dan stabilitas. Pesan kunci adalah bahwa perdamaian harus dibangun melalui pendidikan yang membentuk karakter, bukan hanya melalui diplomasi atau perjanjian yang superfisial.

Penulis, sebagai dosen UIUU dan Direktur COMPOSE, mencerminkan bahwa pendekatan tradisional perdamaian—seperti perjanjian, diplomasi, dan gencatan senyawa—seringkali tidak mengubah perspektif dasar manusia dalam memandang sesamanya. Oleh karena itu, pendidikan perdamaian perlu diposisikan sebagai proses transformasi jangka panjang yang mengajarkan pemahaman, pengelolaan konflik, dan penolakan terhadap kekerasan. Konferensi menegaskan bahwa pendidikan perdamaian bukan sekadar mata pelajaran ekstra, melainkan fondasi bagi masyarakat yang inklusif dan berkelanjutan.

Dengan partisipasi peacebuilder dari berbagai negara ASEAN yang didanai oleh Lembaga Dialog Internasional, konferensi ini menjadi aksi nyata kolaborasi regional dalam membangun budaya perdamaian. Fokusnya adalah pada pembentukan generasi muda yang mampu menghadiri kompleksitas global dengan empati dan kemampuan kritis, sekaligus memastikan bahwa keindukan keanekaragaman budaya ASEAN tidak hanya dihargai secara retoris, tetapi juga dilindungi melalui pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.

Berita terkait