Peneliti BRIN Tekankan Pengendalian Penyakit Pascabencana Tak Bisa Dipukul Rata
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Peneliti BRIN Ristiyanto menekankan bahwa pengendalian penyakit pascabencana tidak bisa dilakukan secara seragam karena setiap jenis bencana memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Dalam diskusi daring di Jakarta, ia menjelaskan bahwa intervensi harus disesuaikan dengan faktor risiko utama dan jenis bencana yang terjadi. Untuk erupsi gunung berapi, seperti erupsi Merapi dan Bromo, intervensi fokus pada pengendalian hama dan populasi tikus yang bermigrasi akibat habitat rusak. Surveillance dan pengendalian tikus dilakukan intensif, bahkan dua minggu sekali. Berbeda dengan bencana banjir, yang membutuhkan penanganan sanitasi dasar, penyebaran larvasida untuk genangan air, dan pemberantasan sarang nyamuk di kawasan pengungsi. Pengalamannya di Aceh menunjukkan hampir semua genangan air harus dilarvasida. Untuk bencana tsunami, intervensi seperti penyemprotan insektisida indoor residual spraying (IRS) wajib dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya di zona inti terdampak. Ristiyanto menyerukan studi dinamika penularan yang cepat dan akurat agar intervensi dapat dilakukan lebih dini sebelum lonjakan kasus terjadi.
Bagikan
Berita terkait
Megawati Prihatin Indonesia Diterpa Bencana: Gempa, Banjir, hingga Papua Turun Salju
JawaPos · 28 Agustus 2026 pukul 17.15
BRIN Siapkan Rumah Tahan Gempa Murah
Liputan6.com · 28 Agustus 2026 pukul 17.06
Indonesia Rawan Bencana, Prabowo Sorot Inovasi Teknologi BRIN
CNN Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 16.30
BRIN: Sampel Pengguna Vape 100 Persen Alami Diabetes
Warta Ekonomi · 2 Oktober 2026 pukul 00.30