Jakarta · Kamis, 1 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Pengusaha Takut Kolaps, Buru-Buru Pakai Robot Otomatis di Pabrik

Industri alas kaki Indonesia tengah mengalami tekanan biaya yang semakin meningkat akibat persaingan pasar ekspor global. Untangga biaya ketenagakerjaan yang terus naik memaksa pelaku usaha untuk beralih ke penggunaan robot dan mesin otomatis di pabrik guna menekan biaya produksi. Menurut Harijanto, Wakil Ketua Umum Aprisindo, labor cost saat ini sudah mencapai 25-30 persen dari total biaya produksi, dan jika terus meningkat, industri berisiko kolaps. Produktivitas hanya bisa naik sekitar 2 persen per tahun, sementara nilai tukar dan kenaikan upah maksimal hanya 2-3 persen, sehingga ruang untuk menyeimbangkan biaya semakin terbatas.

Tekanan ini semakin terasa karena industri alas kaki Indonesia sangat bergantung pada ekspor, dengan nilai ekspor mencapai US$8 miliar, dan 99 persennya adalah sepatu olahraga dan sneakers. Harijanto menyoroti bahwa kontribusi manufaktur terhadap PDB turun drastis dari 28 persen menjadi 18 persen dalam 23 tahun terakhir, sekaligus mengingatkan bahaya pengembalian ke Undang-Undang 13 yang menurutnya tidak terbukti mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi atau lapangan kerja.

Harijanto juga memperingatkan bahwa regulasi yang tidak kompetitif dapat menyebabkan Indonesia kehilangan investasi ke negara-negara seperti Vietnam, Kamboja, bahkan Laos. Vietnam sudah mencapai titik optimal dan hanya bisa beralih ke Indonesia, tetapi jika regulasi tidak akomodatif, produsen asing berpotensi pindah ke negara lain. Oleh karena itu, ia mendesak pemerintah untuk memperbaiki regulasi agar industri manufaktur tetap daya tarik dan bersaing di pasar global.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait