Jakarta · Kamis, 20 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Perlunya Akurasi Data Metana untuk Urai Masalah Sampah

Sekitar 96 persen dari total 511 TPA di Indonesia masih menggunakan sistem open dumping, menyebabkan produksi gas metana yang signifikan. Data SIPSN Kementerian KLH menunjukkan Indonesia menghasilkan 144 ribu ton sampah per hari pada 2025, namun hanya 25 persen yang terkelola dengan baik. Mayoritas timbunan sampah (52,02 persen) adalah sampah organik yang mudah terbakar saat terurai dalam kondisi minim oksigen.

WRI Indonesia melalui inisiatif SMART Waste Indonesia (September 2024–Agustus 2026), didukung Global Methane Hub, menyerahkan hasil kajian emisi metana kepada KLH/BPLH. Proyek ini melakukan survei di lima TPA (Solok, Surabaya, Balikpapan, Mataram, Gorontalo) dan menerapkan drone serta sensor metana langsung di TPA Benowo dan Galuga. Hasilnya digunakan untuk mengusulkan metode Tier 2 IPCC yang lebih akurat, didukung aplikasi Methane Emission Toolbox (MET).

Pemerintah melalui Direktur Mitigasi Perubahan Iklim KLH/BPLH, Haruki Agustina, menyatakan komitmen mendukung target pengurangan emisi nasional melalui peta jalan sektor limbah. Country Director WRI Indonesia, Nirarta Samadhi, menekankan pentingnya mitigasi dari sumber—pengurangan sampah, pemilahan, pengolahan organik, hingga pemanfaatan gas metana. Inisiatif ini mendukung target Global Methane Pledge untuk mengurangi emisi metana 30 persen pada 2030.

Berita terkait