Praktisi Lingkungan Sebut Pengelolaan Sampah Butuh Solusi Terintegrasi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Praktisi lingkungan menegaskan pengelolaan sampah tidak cukup hanya dengan membangun fasilitas pengolahan di hilir, tetapi membutuhkan sistem terintegrasi mulai dari pengurangan dan pemilahan di sumber hingga pengolahan residu. Menurut Mohamad Bijaksana Junerosano, Founder dan CEO Waste4Change, Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) dapat menjadi bagian dari solusi, namun harus ditempatkan sebagai pengolah residu yang tidak dapat didaur ulang atau dikomposkan, bukan pengganti sistem daur ulang di awal.
Junerosano menjelaskan sistem pengelolaan sampah ideal dimulai dari pengurangan dan pemilahan di sumber, pengolahan sampah organik dan anorganik, serta material yang tidak dapat dimanfaatkan lagi ditangani melalui PSEL. Integrasi ini penting karena kegagalan pada satu mata rantai akan membuat sebagian besar sampah kembali ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Oleh karena itu, PSEL idealnya hanya menangani 30-40 persen dari total timbulan sampah, agar tidak melemahkan ekosistem ekonomi sirkular yang melibatkan bank sampah, TPS3R, pemulung, dan pelaku daur ulang.
Kontrak dan regulasi PSEL dinilai menjadi faktor kunci agar tidak mengikat pemerintah daerah pada skema 'put or pay' yang mengharuskan pemenuhan kuota tonase tinggi. Hal ini berpotensi mengurangi insentif bagi masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah dengan benar.
Bagikan
Berita terkait
Kisah Matori Andalkan PLTS untuk Ekonomi Sirkular Sampah
kumparan · 15 September 2026 pukul 13.50
Dari Sampah-Energi Bersih, Local Hero Pertamina Ajarkan Kemandirian Omah Sinau
kumparan · 12 September 2026 pukul 20.34
Groundbreaking Desember, PSEL Semarang Raya Target Olah 1.000 Ton Sampah
Detik.com · 8 September 2026 pukul 13.24
Waste4Change: Pengelolaan Sampah Harus Jadi Bagian Strategi Bisnis
SINDOnews · 7 September 2026 pukul 14.18