Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Putin dan al-Sharaa Makin Mesra, 5 Alasan Suriah dan Rusia Definisikan Ulang Aliansi

Pemerintah pasca-Assad di Suriah dan Rusia menandatangani nota kesepahaman untuk mengatur kembali pangkalan udara Hmeimim dan pangkalan angkatan laut Tartus. Kesepakatan ini datang setelah 18 bulan perundingan sekaligus menandai perubahan signifikan dari peran kedua fasilitas yang sebelumnya mendukung rezim Bashar al-Assad selama perang saudara yang berlangsung hampir 14 tahun. Dalam kesepakatan baru, Suriah akan mengambil alih kendali atas fasilitas sipil di Hmeimim dan bagian komersial pelabuhan Tartus, sementara fasilitas militer tersebut akan diubah menjadi pusat pelatihan dan kualifikasi gabungan Rusia-Suriah dengan proses transisi yang diperkirakan selesai dalam tiga bulan. Rusia tidak memberikan komentar resmi mengenai kesepakatan ini. Kehadiran Moskow di kedua pangkalan ini sebelumnya menjadi pijakan penting dalam mendukung intervensi militernya sejak 2015 hingga akhirnya membantu mengamankan kekuasaan al-Assad selama bertahamanya. Setelah tergulingnya al-Assad pada Desember 2024, pasukan Rusia yang masih berada di Suriah secara bertahap meninggalkan negara, kecuali mereka yang ditempatkan di kedua pangkalan strategis tersebut. Para analis menilai langkah ini mencerminkan pendekatan pragmatis dari kedua belah pihak, di mana Damaskus mendapatkan lebih banyak kedaulatan atas fasilitas strategis penting, sementara Moskow tetap mempertahankan pijakannya dan menghindari kemungkinan terusir sepenuhnya dari wilayah yang telah menjadi fokus investasi besar selama beberapa dekade. Menurut Alexey Muraviev, peneliti senior bidang pertahanan dan studi strategis di Edith Cowan University, kesepakatan ini menunjukkan bahwa kedua negara saling membutuhkan, dan pemerintah Suriah kemungkinan tidak tertarik untuk mengakhiri hubungan jangka panjangnya dengan Rusia. Intervensi militer Rusia pada 2015 sebelumnya berhasil mengubah arah perang yang menguntungkan pemerintah yang dipimpin al-Assad, dengan Hmeimim menjadi pusat operasi udara dan Tartus sebagai pijakan utama bagi angkatan laut Rusia di Mediterania. Namun, Moskow tidak melakukan intervensi saat terjadi pergerakan pasukan besar-besaran menuju Damaskus yang berujung pada tergulingnya al-Assad. Kesepakatan ini juga menandai akhir dari peran kedua pangkalan yang sebelumnya mendukung rezim tersebut dalam konflik yang menewaskan ratusan ribu warga sipil dan menyebabkan jutaan orang mengungsi. Dengan alihnya kendali penuh atas fasilitas sipil, Suriah berupaya memulihkan kedaulatannya atas wilayah pesisnya, sementara Moskow tetap menjaga kehadiran strategisnya di kawasan yang penting bagi kepentingan geopolitik dan militernya. Proses transisi yang diperkirakan selesai dalam tiga bulan akan menentukan bagaimana kedua negara dapat bekerja sama di masa depan, terutama dalam konteks stabilitas kawasan dan dinamika hubungan internasional yang terus berkembang. Para ahli juga menekankan bahwa meskipun kesepakatan ini menandai perubahan dalam aliansi tradisional, kedua belah pihak tetap memiliki kepentingan bersama yang mendasar, terutama dalam hal keamanan maritim dan pertahanan wilayah. Dengan demikian, meskipun tekanan politik dan militer yang meningkat, kemungkinan besar hubungan strategis antara Suriah dan Rusia akan terus bertahan, meskipun dalam bentuk yang disesuaikan dengan realitas baru pasca-Assad.", "tags": ["suriah", "rusia", "aliansi", "pangkalan militer", "damaskus"]}</arg_value>

Berita terkait