Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Salah Kaprah Memahami Geger Cilegon: Propaganda Belanda Mengecilkan Perang Sabil

Geger Cilegon tahun 1888 bukan sekadar keributan lokal sebagaimana digambarkan Belanda, melainkan bagian dari Perang Sabil Banten yang lebih luas. Gerakan ini dipimpin oleh Ki Wasid dari Cilegon dan Haji Tubagus Ismail dari Serang, dengan dukungan moral dari dua ulama Banten di Makkah, Syeikh Nawawi Al-Bantani dan Syeikh Abdul Karim Al-Bantani. Mereka melancarkan serangan pada Senin, 9 Juli 1888 (29 Syawal 1305 H), merebut kantor kepatihan Cilegon dan menumbangkan pejabat kolonial termasuk H.H. Gubbels dan Patih Ardi Sasmita. Perlawanan ini merupakan respons terhadap pajak berat seperti roetdienst dan hoofdbeitrag, kemiskinan pasca-letusan Krakatau 1883, serta pelarangan kegiatan keagamaan. Belanda sengaja mereduksi narasi ini sebagai 'het rumoer van Tjelegon' untuk menghindari pengakuan akan kegagalan kekuasaan kolonial di Banten. Dokumen Koloniaal Verslag 1889 dan laporan proces-verbal membuktikan upaya ini. Akibatnya, 94 pejuang Banten diasingkan ke pulau-pulau terpencil seumur hidup. Pasca peristiwa, Belanda mengutus Snouck Hurgronje untuk merumuskan teori Islam Politiek guna memisahkan urusan ibadah dari politik.

Berita terkait