Sepatu Karet dan Cara Kita Menilai Riset
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pada 6 Agustus 2026, BRIN memamerkan lebih dari 200 hasil riset di Istana Merdeka, Jakarta, termasuk alat deteksi cepat unsur hara tanah berbasis inframerah dekat. Namun publik lebih menyoroti produk sederhana seperti sepatu karet, genteng komposit, dan keripik ubi. Sepatu karet tersebut sebenarnya menggunakan teknologi one-piece injection molding tanpa perekat serta material berbasis karet alam dan limbah kelapa sawit, seperti abu boiler yang diolah menjadi silika bernilai tambah. Kritik publik wajar karena riset dibiayai sumber daya publik, namun penilaian riset tidak boleh hanya dari bentuk produk akhir, melainkan dari teknologi yang dikuasai, bahan baku lokal yang diproduksi, ketergantungan yang dikurangi, dan industri yang bisa tumbuh. Hilirisasi teknologi menjadi krusial agar riset tidak berhenti di laporan ilmiah. Data Bank Dunia menunjukkan pengeluaran riset Indonesia hanya 0,28% dari PDB (2020), jauh di bawah Vietnam yang mencapai 0,41% (2023). Komunikasi sains perlu ditingkatkan agar publik memahami manfaat nyata sebuah inovasi. Pertemuan peneliti BRIN dengan Presiden Prabowo menegaskan sains dan teknologi sebagai bagian integral pembangunan ekonomi dan kemandirian bangsa.
Bagikan
Berita terkait
Penampakan Sepatu Karet Lokal BRIN Rp 80 Ribuan yang Dipesan Prabowo
CNBC Indonesia · 7 Agustus 2026 pukul 17.20
Kepala BRIN Ungkap Prabowo Tertarik Sepatu Buatannya, Diminta Kembangkan
Detik.com · 6 Agustus 2026 pukul 21.03
BRIN Produksi Sepatu Karet Rp80 Ribu, Prabowo Ikut Pesan
CNN Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 14.50
BRIN Siapkan N219 Jadi Ambulans Terbang untuk Daerah Terpencil
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 10.49