Wamenkomdigi: Kampus harus jaga sisi kritis mahasiswa hadapi Gen AI
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria meminta perguruan tinggi untuk tetap menjaga kemampuan berpikir kritis mahasiswa di tengah maraknya penggunaan Generative AI (Gen AI). Ia menekankan agar Gen AI digunakan sebagai mitra dalam proses belajar, bukan pengganti berpikir kritis. Pesan ini disampaikan dalam Seminar Nasional dan Bimbingan Teknis Dosen Mata Kuliah Wajib Kurikulum (MKWK) Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ). Nezar meminta dosen membimbing mahasiswa agar memahami AI sebagai alat bantu, sambil mengutamakan etika, integritas akademik, dan kemampuan berpikir kritis. Ia juga menyoroti pentingnya kebijakan tata kelola AI yang berbasis nilai di perguruan tinggi. Untuk menghadapi dinamika AI generatif, Nezar mengusulkan tiga langkah strategis: reorientasi pedagogi, penguatan literasi AI berbasis nilai, dan kolaborasi lintas sektor. Literasi AI perlu memastikan mahasiswa memahami cara kerja, bias, dan keterbatasan AI, sekaligus menyadari dampaknya terhadap kedaulatan digital bangsa. Kolaborasi tidak hanya antar perguruan tinggi, tetapi juga dengan pemerintahan, agar mahasiswa tidak hanya menjadi subjek transformasi digital, tetapi juga ikut membentuk kebijakan dan etika AI Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
HUT ke-81 RI, 1.500 Sivitas Akademika Bersatu Dorong Pendidikan Tinggi Berdampak
JPNN.com · 18 Agustus 2026 pukul 00.17
HUT ke-81 RI, Komdigi Perkuat Kedaulatan Digital dari judi Online hingga Perlindungan Anak
JawaPos · 17 Agustus 2026 pukul 16.30
The Sovereignty We’re Renting
Warta Ekonomi · 16 Agustus 2026 pukul 07.17
Saat Ijazah S1 Tak Lagi Jaminan: Cerita Sarjana Jualan Sempol hingga Jaga Toko
kumparan · 15 Agustus 2026 pukul 14.35