Ahli Komunikasi: Sindiran Prabowo ke Pakar Tak Diterima Sama oleh Publik
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Presiden Prabowo Subianto menyindir sejumlah pakar karena dinilai "saking pintarnya jadi goblok" pada peringatan HUT ke-28 PAN di Jakarta, Jumat (18/9/2026). Pernyataan ini memicu respons bervariasi dari publik, dengan mayoritas warganet di media sosial merespons secara kritis dan menolak pesan tersebut.
Dr. Filosa Gita Sukmono, M.A., Ketua Prodi Ilmu Komunikasi UMY, menilai perbedaan respons wajar karena pesan pemimpin tidak selalu diterima sesuai maksud. Ia menjelaskan bahwa setelah pernyataan Presiden keluar, pesan tidak bisa ditarik lagi dan justru terus berkembang melalui komentar, unggahan ulang, dan potongan video di media sosial.
Filosa menekankan pentingnya data kuat dalam setiap komunikasi. Pesan tanpa data kuat dapat menurunkan kepercayaan publik. Di era digital, setiap ucapan pejabat bisa dengan mudah dikutip dan dipotong, sehingga pesan harus disesuaikan dengan audiens yang dituju. Ia mengingatkan bahwa bahkan mimik wajah pun bisa diulas oleh warganet, sehingga setiap pesan harus dipertimbangkan matang sebelum disampaikan.
Bagikan
Berita terkait
Elite Gerindra Sebut 60 Persen Orang yang Tidak Puas dengan Kinerja Prabowo itu Akun Palsu
Warta Ekonomi · 23 September 2026 pukul 17.07
Dihujat Gegara Ogah Kritik Prabowo, Rocky Gerung: 10 Tahun Lagi Kalian akan Minta Maaf
Warta Ekonomi · 23 September 2026 pukul 11.10
Sudaryono: Mayoritas Pengkritik Prabowo Adalah Robot, Dikendalikan Oligarki dan Koruptor
Warta Ekonomi · 23 September 2026 pukul 08.40
Prabowo: Jangan Percaya yang Ada di Sosmed, Antek Asing Bisa Bayar Buzzer
kumparan · 19 September 2026 pukul 13.27