Asuransi Properti Sumbang Premi Terbesar, Tapi Bisnisnya Terpukul Gegara Investor Asing Cabut
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lini usaha asuransi properti masih menjadi penyumbang premi terbesar industri asuransi umum hingga Juli 2026, mencapai Rp18,54 triliun atau 25,15% dari total premi. Namun, bisnis ini mengalami tekanan karena berkurangnya objek yang dapat diasuransikan akibat pabrik dan investor asing meninggalkan Indonesia. Data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) pada kuartal II-2026 menunjukkan premi asuransi properti kontraksi 13,6% secara tahunan menjadi Rp15,5 triliun dengan pangsa pasar 26,6%.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian OJK, Ogi Prastomiyono, menyatakan prospek asuransi properti masih terbuka seiring aktivitas ekonomi dan pembangunan, namun perusahaan perlu memperkuat risk assessment dan penetapan harga. Di bawah asuransi properti, dua lini bisnis dengan kontribusi terbesar adalah asuransi kredit (16,95%) dan kendaraan bermotor (16,67%). Ketiganya secara bersama-sama menyumbang hampir 60% dari total premi industri asuransi umum.
Sementara itu, premi asuransi kendaraan bermotor pada kuartal II-2026 tumbuh 4,9% menjadi Rp9,8 triliun, sementara asuransi kredit naik 9,3% menjadi Rp9,3 triliun. Ketua Umum AAUI Budi Herawan menegaskan kontraksi asuransi properti dipengaruhi berkurangnya proyek dan objek akibat pengunduran diri investor asing dari Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
OJK Catat Aset Industri Asuransi Capai Rp1.187 Triliun, Ini Penopangnya
Warta Ekonomi · 7 September 2026 pukul 20.00
Investor Asing Net Buy Rp1,19 Triliun di Saham RI pada Agustus 2026
Warta Ekonomi · 7 September 2026 pukul 18.22
Premi Asuransi Tumbuh 2,71% Jadi Rp199,8 Triliun per Juli 2026
Warta Ekonomi · 7 September 2026 pukul 16.25
Premi Asuransi Kesehatan Jiwa Tumbuh 12,04% Jadi Rp20,57 Triliun
Warta Ekonomi · 2 September 2026 pukul 20.50