Bank Indonesia Olah Limbah Uang Jadi Cendera Mata, 72% Sudah Diproses
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9326185/original/020758300_1786963179-sp_2816026.jpeg)
Bank Indonesia (BI) mendorong pengelolaan uang Rupiah berbasis ekonomi sirkular dengan mengolah limbah racik uang kertas menjadi cendera mata bersama UMKM serta memanfaatkannya sebagai tambahan sumber energi bagi listrik dan industri. Deputi Gubernur BI Ricky P. Gozali menjelaskan bahwa pengelolaan uang kini tidak hanya soal pencetakan, pengedaran, dan pemusnahan, tetapi juga aspek keberlanjutan lingkungan. Saat ini, 72% limbah racik uang kertas telah diolah, dan BI menargetkan seluruhnya dapat diproses secara sirkuler pada 2027. Atas inovasi ini, BI meraih International Association of Currency Affairs (IACA) Award 2026. Langkah tersebut merupakan bagian dari rangkaian Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (FERBI) 2026. Dalam forum BRIDGE 2026 yang digelar di Jakarta, bank sentral dari India, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Papua Nugini turut membahas inovasi pengelolaan uang berkelanjutan. Malaysia mengolah limbah uang menjadi berbagai produk, sementara Thailand menggunakan bahan kertas lebih tahan lama untuk memperpanjang masa edar uang.
Bagikan
Berita terkait
BI:Transaksi Kartu Kredit Indonesia segmen pemerintah naik 69,5 persen
ANTARA News · 17 Agustus 2026 pukul 20.04
KKI Diluncurkan BI, Mensesneg Sebut Bisa Jadi Upaya Dorong Kredit Murah
Warta Ekonomi · 17 Agustus 2026 pukul 19.02
Mulai Oktober 2026, BI Gratiskan MDR QRIS untuk Semua Merchant
JawaPos · 17 Agustus 2026 pukul 19.01
Mulai Oktober 2026, Biaya Transaksi QRIS Gratis untuk Semua Merchant
JawaPos · 17 Agustus 2026 pukul 18.45