BI Siapkan Insentif Likuiditas Dorong KPR dan Sektor Perumahan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4948540/original/061465800_1726804839-20240920-FLPP-MER_3.jpg)
Bank Indonesia (BI) mengoptimalkan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong pembiayaan sektor perumahan, real estate, dan konstruksi. Saat ini, pemanfaatan plafon sektor tersebut mencapai 1,32% dari total Dana Pihak Ketiga (DPK), sehingga masih tersedia ruang 0,08% dari plafon maksimal 1,4%. Total insentif KLM secara keseluruhan telah meningkat menjadi 6% sejak September 2026.
Efektivitas kebijakan ini terlihat dari penyaluran 115.927 unit KPR komersial baru senilai Rp68,35 triliun pada periode April 2025 hingga Juli 2026. Selain KLM, BI menerapkan pelonggaran LTV/FTV hingga 100%, penguatan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), serta pemanfaatan surat utang PT SMF dan PT SMI sebagai underlying repo.
Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) mengapresiasi langkah BI karena sektor perumahan dianggap sebagai penggerak ekonomi yang melibatkan perbankan, pengembang, hingga UMKM. Sinergi antara BI dan pemerintah akan terus diperkuat untuk memperluas akses hunian masyarakat sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
ANTARA News · 2 Oktober 2026 pukul 14.39
Destry sebut insentif likuiditas makroprudensial BI dukung perumahan
CNBC Indonesia · 2 Oktober 2026 pukul 12.57
Bos BI-Menteri Ara Bahas Dukungan Program Perumahan, Ini Hasilnya
JPNN.com · 2 Oktober 2026 pukul 12.17
BI Sebut Inflasi September 2026 Tetap Terjaga
ANTARA News · 1 Oktober 2026 pukul 15.30
Rupiah melemah dipengaruhi pengumuman inflasi Indonesia
Berita terkait
Kredit Tumbuh 13,6%, BI Kasih Insentif ke Bank yang Genjot Penyaluran
Warta Ekonomi · 24 September 2026 pukul 20.33
Rupiah Melemah ke 17.966 Setelah Rilis Inflasi September 2026
Liputan6.com · 1 Oktober 2026 pukul 20.12
Rupiah Kembali Melemah Tertekan Data Tenaga Kerja AS
Liputan6.com · 1 Oktober 2026 pukul 12.21
Awal Perdagangan, Rupiah Kembali Tertekan di Level Rp17.908 per USD
Warta Ekonomi · 1 Oktober 2026 pukul 09.22