Jakarta · Sabtu, 3 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Batik Hadapi Perubahan Selera Konsumen, Inovasi Digital Jadi Ruang Baru

Industri batik di Indonesia tengah beradaptasi dengan perubahan selera konsumen dan perkembangan teknologi, sambil mempertahankan karakter tradisionalnya. Menurut data Kementerian Perindustrian, terdapat sekitar 5.946 industri batik tersebar di 11 provinsi dengan lebih dari 200 sentra, serta menyerap sekitar 47 ribu tenaga kerja. Pada sisi ekspor, nilai batik naik dari US$15,20 juta pada 2024 ke US$20,14 juta pada 2025, namun mengalami penurunan pada semester I 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Inovasi digital kini menjadi ruang baru bagi pengembangan batik, mulai dari eksplorasi motif hingga pemasaran. Namun, teknologi tidak menggantikan proses tradisional. Rumah Batik Jawa Timur, yang telah tiga generasi mengusung batik tulis, menggunakan digital hanya sebagai alat desain sementara proses utama tetap dilestarikan. Founder Syarif Usman menekankan bahwa digital justru menjadi sarana untuk menjaga agar tradisi tetap hidup.

Upaya keberlanjutan juga dilakukan melalui regenerasi perajin dan pengetahuan membatik. Rumah Batik Jawa Timur memberikan pelatihan kepada 700 sekolah dasar di Surabaya, sementara Ulur Wiji melibatkan perempuan muda di komunitas desa dalam pengembangan keterampilan kriya. Dengan memadukan material alami, teknik tradisional, dan desain kontemporer, industri batik berupaya tetap relevan di tengah dinamika pasar modern.

Peristiwa ini diliput 2 media — baca rangkuman gabungannya

Diberitakan juga oleh


Berita terkait