Benarkah Muhammadiyah Kehilangan Umat, Sementara NU Terus Membesar?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Survei LSI Denny JA menunjukkan penurunan identifikasi publik terhadap Muhammadiyah dari 9,4% (2005) menjadi 5,7% (2023), sementara NU melonjak dari 27,5% menjadi 56,9%. Namun, angka ini mencerminkan 'perasaan menjadi bagian' (identitas sosial), bukan jumlah anggota resmi organisasi. NU memiliki kekuatan pada jangkauan kultural melalui jaringan pesantren dan kiai, sedangkan Muhammadiyah kuat pada jangkauan institusional melalui sekolah dan rumah sakit.
Penurunan angka Muhammadiyah tidak berarti organisasi tersebut punah, melainkan adanya paradoks di mana masyarakat memanfaatkan amal usahanya tanpa merasa terikat secara organisatoris. Hal ini menjadi alarm bagi Muhammadiyah terkait efektivitas kaderisasi dan pewarisan identitas kepada generasi muda di tengah ekosistem modern yang mereka bangun.
Bagikan
Berita terkait
Muhammadiyah Jombang Turun Tangan di Muktamar NU, Siapkan 10 Rumah Sakit hingga 10.000 Bakso
JawaPos · 28 Agustus 2026 pukul 14.45
Muktamar Ke-35 NU: Presiden Prabowo Tegaskan Peran Vital NU dan Muhammadiyah
Media Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 20.43
Canda Prabowo Tiba-Tiba Minta Kartu Anggota NU ke Gus Yahya
CNBC Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 19.35
Prabowo: Saya Tak Mungkin Jadi Mandataris Rakyat Tanpa NU-Muhammadiyah
Liputan6.com · 27 Agustus 2026 pukul 18.35