Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Bukan Olahraga Murah: Cuan Besar di Balik Lari

Olahraga lari di Indonesia, khususnya di Jabodetabek, semakin populer namun tidak lagi dianggap murah. Ratih Siubelan, seorang pelari, mengaku kini lebih selektif mengikuti event lari setelah menyaksikan kenaikan harga yang signifikan sejak 2022. Pada masa itu, harga race sekitar Rp 100–150 ribu, bahkan ada fun run 5K hanya Rp 75 ribu. Namun kini, kategori full marathon (FM) sudah mencapai Rp 900 ribu hingga Rp 1 juta, dengan kenaikan rata-rata Rp 100 ribu per tahun. Ratih juga pernah mengalami trauma akibat overbooking peserta, sehingga kini ia lebih memilih event dengan cut-off time yang wajar dan kepadatan peserta yang terkontrol.

Nuryaman Nurahman, pelari lain yang pernah mengikuti race luar negeri, memaparkan bahwa biaya lari tidak hanya terbatas pada pendaftaran. Untuk event dalam kota seperti Jabodetabek, biaya registrasi saja bisa mencapai Rp 500 ribu. Namun jika digelar di luar kota seperti Bandung, Bali, atau Surabaya, biaya bisa mencapai Rp 2–5 juta per orang karena transportasi, akomodasi, dan makan. Untuk lari internasional seperti ke Australia atau Jepang, biaya total bisa mencapai Rp 30–50 juta, termasuk visa, pesawat, dan hotel. Di samping itu, biaya penampilan seperti sepatu, baju lari, dan aksesoris juga menjadi pengeluaran besar, terutama bagi mereka yang aktif di komunitas lari.

Berdasarkan analisis data, tercatat ada sekitis 172 event lari di Jabodetabek untuk kalender 2026, dengan rata-rata harga tiket registrasi Rp 266 ribu. Kategori 5K paling banyak digelar (150 event), diikuti oleh 6–10K (76 event). Salah satu event dengan peserta hingga 27.000 orang berpotensi menghasilkan pendapatan Rp 27 miliar hanya dari pendaftaran. Sementara Gubernur DKI Pramono Anung mencatat, Jakarta International Marathon 2026 diproyeksikan memberikan dampak ekonomi di atas Rp 200 miliar, naik dari Rp 125 miliar tahun sebelumnya.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait