Bupati Terkaya di Jawa Hidup Serba Mewah, Rakyatnya Melarat
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pada awal abad ke-19, Cianjur di Jawa Barat menjadi pusat produksi kopi terbesar di wilayah Priangan, dengan produksi mencapai sekitar 1,5 juta kopi pada 1806. Kekayaan dari industri kopi ini menguatkan posisi sosial dan ekonomi para bupati, yang menjadi kelompok terkaya di wilayahnya. Mereka memperoleh pemasukan dari gaji, pajak, hingga praktik feodalisme tidak tertulis. Namun, kemakmuran ini tidak dirasakan oleh rakyat, yang justru menjadi korban sistem tanam paksa kopi yang memaksa mereka bekerja keras untuk keuntungan elite dan kas kolonial.
Bupati Cianjur dikenal dengan gaya hidup mewah, seperti mengelilingi menggunakan kereta berlapis emas dan membawa barang-barang mewah seperti candu, tembakau, dan katun. Menurut sejarawan Jan Breman, mereka berbelanja barang mewah dengan harga tinggi, mirip bangsawan besar. Kemewahan ini bahkan mempengaruhi daerah lain, seperti saat Bupati Cianjur mengunjungi Lebak dengan rombongan besar yang menjadi beban bagi pemerintah setempat. Menurut Nina Herlina Lubis, kabupaten diposisikan sebagai panggung pertunjukan, dengan bupati sebagai aktor utama yang harus menampilkan kemegahan.
Sejarah menunjukkan pola berulang di mana kekuasaan berjalan beriringan dengan kemewahan elite, sementara rakyat tetap menanggung penderitaan. Ketimpangan kesejahteraan antara penguasa dan masyarakat ini bukan fenomena baru, melainkan bagian dari sistem yang terus berlanjut sejak era kolonial.
Bagikan
Berita terkait
Cerita di Balik Seringnya Megawati Teriak Merdeka
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 21.59
AS, Mesir, hingga Polandia Sampaikan Ucapan Selamat HUT ke-81 RI
Media Indonesia · 17 Agustus 2026 pukul 18.16
Sembilan Bulan di Hutan Irian Barat, Kisah Veteran Perintis Kemerdekaan Hendrik Unwaru
JPNN.com · 17 Agustus 2026 pukul 16.40
Megawati: Kader yang Takut Sebut Nama Bung Karno, Saya Pecat
kumparan · 17 Agustus 2026 pukul 14.27