Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Dulu Antre Makan Gratis, Kini Jadi Triliuner Teknologi

Jan Koum, pendiri WhatsApp, lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di luar Kota Kyiv, Ukraina, dalam kondisi ekonomi sangat sulit. Rumah keluarganya bahkan tidak memiliki air panas atau listrik yang memadai. Pada 1992, ketika berusia 16 tahun, ia bersama ibunya dan neneknya beremigrasi ke Amerika Serikat dan menetap di Mountain View, California. Di sana, keluarganya hidup dengan sulit; ibunya bekerja sebagai pengasuh anak, sementara Jan bekerja sebagai pembersih lantai di toko kelontong dan bergantung pada kupon makanan pemerintah. Tanpa biaya untuk kuliah, Jan belajar otodidak tentang jaringan komputer dan keamanan sistem dengan membeli buku bekas, lalu mengembalikannya setelah selesai dibaca. Kemampuannya membawa ia bergabung dengan grup peretas independen w00w00 dan kemudian diterima bekerja di Yahoo selama sembilan tahun. Di sana, ia mendapatkan pengalaman mendalam tentang operasi perusahaan teknologi raksasa, namun juga merasakan kekecewaan terhadap fokus industri pada monetisasi data pengguna dan iklan yang berlebihan. Pada 2009, setelah membeli iPhone dan melihat potensi App Store serta push notification, Jan mendirikan WhatsApp bersama Brian Acton dengan prinsip aplikasi bebas iklan, game, atau fitur berlebihan. Filosofi kesederhanaan dan privasi pengguna ini membuat WhatsApp berkembang pesat hanya dengan dukungan kata pengguna, hingga akhirnya dibeli oleh Facebook pada 2014 dengan nilai US$ 19 miliar. Jan menandatangani perjanjian akuisisi di depan pintu gerbang gedung kantor sosial yang sama tempat ia dulu mengantre kupon makanan, sebagai simbol kemenangannya atas kemiskinan. Hingga kini, perkiraan kekayaannya mencapai antara US$ 15 miliar hingga US$ 17 miliar, menjadikannya salah satu pengusaha terkaya di dunia.

Berita terkait