Ekonom Beberkan Alasan Sektor Jasa Keuangan Indonesia Tetap Tangguh di Tengah Ketidakpastian Global
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
Sektor jasa keuangan Indonesia mempertahankan kinerja di tengah ketidakpastian global, dengan pertumbuhan kredit perbankan melonjak 12,67% YoY pada Juni 2026 dan rasio NPL terus menurun, sementara CAR tetap kuat di kisaran 23,70%. Ekonom Piter Abdullah, Bowo Setiyono (UGM) dan Josua Pardede (Permata Bank) menyatakan bahwa modal yang memadai, likuiditas dan profitabilitas yang solid, serta regulasi hati‑hati OJK yang belajar dari krisis 1998‑1999 menjadi fondasi ketahanan. Meskipun demikian, pelemahan daya beli konsumen, tekanan likuiditas, ketegangan geopolitik, biaya dana tinggi, tekanan nilai tukar dan ekspansi pinjaman daring serta layanan BNPL menimbulkan risiko baru yang memerlukan pengawasan lebih ketat. OJK telah berkoordinasi dengan BI, Kemenkeu dan LPS melalui KSSK, menjalankan stress test, memperbarui SLIK, memperkuat permodalan lembaga, mereformasi pasar modal dan melindungi konsumen via Indonesia Anti‑Scam Centre. Ke depan, deteksi dini risiko, kualitas pertumbuhan kredit, konsolidasi NBFC dan pengawasan pinjaman digital akan menjadi kunci stabilitas sistem keuangan.
Bagikan
Berita terkait
Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,2% Kuartal II-2026, Ini Pendorongnya
CNBC Indonesia · 5 Agustus 2026 pukul 11.26
Ekonomi RI Tumbuh 5,29%, IHSG Langsung Menguat 0,62%
CNBC Indonesia · 5 Agustus 2026 pukul 11.26
Pertumbuhan Ekonomi RI Kuartal II 2026 Diramal Jatuh di Bawah 5%, Tekanan Fiskal Jadi Sorotan
SINDOnews · 5 Agustus 2026 pukul 08.27
Purbaya Janji Ekonomi Tahun Ini Tumbuh Dekati 6%
Detik.com · 5 Agustus 2026 pukul 07.24