Ekonom tekankan efektivitas belanja negara dorong aktivitas ekonomi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menekankan bahwa efektivitas belanja negara lebih penting daripada besaran anggarannya dalam mendorong aktivitas ekonomi. Dalam RAPBN 2027, Presiden Prabowo Subianto menargetkan belanja negara Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun di APBN 2026. Pendapatan negara diperkirakan Rp3.426 triliun, naik dari Rp3.153,6 triliun, sementara pembiayaan anggaran turun menjadi Rp671,2 triliun dari Rp689,1 triliun. Defisit anggaran ditargetkan 2,40 persen terhadap PDB, membaik dari 2,68 persen di APBN 2026. Yusuf menilai defisit tersebut masih dalam batas aman, namun perlu dicermati karena tax ratio Indonesia masih rendah dan penerimaan pajak belum selalu sesuai target. Asumsi imbal hasil SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen menunjukkan biaya pembiayaan tetap tinggi, dan jika kondisi global mengetat atau sentimen investor memburuk, beban bunga bisa meningkat sehingga ruang fiskal semakin sempit. Ia menyarankan penguatan investasi, produktivitas, manufaktur, serta nilai tambah dari hilirisasi untuk mendorong ekonomi. Terkait asumsi kurs rupiah Rp17.500 per dolar AS di RAPBN 2027, lebih lemah dibanding Rp16.500 per dolar AS di APBN 2026, Yusuf menyebut ini mengindikasikan risiko eksternal yang cukup besar. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan pembayaran utang valas, sekaligus menekan daya beli masyarakat. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat menaikkan biaya produksi industri dan menahan pertumbuhan ekonomi.
Bagikan
Berita terkait
Alasan Geo Dipa Batal Ditarik ke Danantara
Detik.com · 3 Oktober 2026 pukul 07.54
BCA: Ekonomi sulit diprediksi dorong nasabah proteksi kekayaan
ANTARA News · 3 Oktober 2026 pukul 07.45
Sempat Melonjak, Harga Emas Mendadak Anjlok Hari Ini
Liputan6.com · 3 Oktober 2026 pukul 07.42
Berbekal Pengalaman 39 Tahun, LippoLand Hadirkan Brentwood Villas untuk Hunian Multigenerasi
Warta Ekonomi · 3 Oktober 2026 pukul 07.40