Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ekonom tekankan efektivitas belanja negara dorong aktivitas ekonomi

Ekonom CORE Yusuf Rendy Manilet menekankan bahwa efektivitas belanja negara lebih penting daripada besaran anggarannya dalam mendorong aktivitas ekonomi. Dalam RAPBN 2027, Presiden Prabowo Subianto menargetkan belanja negara Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun di APBN 2026. Pendapatan negara diperkirakan Rp3.426 triliun, naik dari Rp3.153,6 triliun, sementara pembiayaan anggaran turun menjadi Rp671,2 triliun dari Rp689,1 triliun. Defisit anggaran ditargetkan 2,40 persen terhadap PDB, membaik dari 2,68 persen di APBN 2026. Yusuf menilai defisit tersebut masih dalam batas aman, namun perlu dicermati karena tax ratio Indonesia masih rendah dan penerimaan pajak belum selalu sesuai target. Asumsi imbal hasil SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen menunjukkan biaya pembiayaan tetap tinggi, dan jika kondisi global mengetat atau sentimen investor memburuk, beban bunga bisa meningkat sehingga ruang fiskal semakin sempit. Ia menyarankan penguatan investasi, produktivitas, manufaktur, serta nilai tambah dari hilirisasi untuk mendorong ekonomi. Terkait asumsi kurs rupiah Rp17.500 per dolar AS di RAPBN 2027, lebih lemah dibanding Rp16.500 per dolar AS di APBN 2026, Yusuf menyebut ini mengindikasikan risiko eksternal yang cukup besar. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya impor bahan baku dan pembayaran utang valas, sekaligus menekan daya beli masyarakat. Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat menaikkan biaya produksi industri dan menahan pertumbuhan ekonomi.

Berita terkait