Emiten KFC Milik Keluarga Gelael dan Salim Grup Masih Merugi Rp56,7 Miliar Meski Pendapatan Naik
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola jaringan restoran KFC di Indonesia yang dimiliki oleh keluarga Gelael dan Salim Grup, masih mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp56,74 miliar pada semester I-2026. Meskipun demikian, kerugian ini lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp138,75 miliar. Pencatatan ini disampaikan dalam laporan keuangan hingga 30 Juni 2026. Pendapatan perseroan mencapai Rp2,78 triliun, meningkat sebesar 15,8% dibandingkan dengan semester I-2025 yang sebesar Rp2,40 triliun. Kenaikan pendapatan ini diiringi dengan peningkatan beban pokok penjualan hingga Rp1,23 triliun dari Rp961,44 miliar. Laba bruto perseroan juga mengalami kenaikan dari Rp1,44 triliun menjadi Rp1,55 triliun. Di sisi operasional, rugi usaha berhasil ditekan dari Rp143,17 miliar menjadi Rp32,42 miliar. Kerugian sebelum pajak juga menurun signifikan dari Rp185,38 miliar menjadi Rp76,95 miliar. Akibatnya, rugi bersih per saham turun dari Rp31 menjadi Rp13. Posisi aset perseroan meningkat dari Rp4,94 triliun menjadi Rp5,16 triliun, sementara total liabilitas naik dari Rp4,51 triliun menjadi Rp4,75 triliun. Di tengah perbaikan kinerja keuangan ini, Bursa Efek Indonesia (BEI) memberikan status Unusual Market Activity (UMA) terhadap saham FAST akibat kenaikan harga yang tidak biasa. BEI menegaskan bahwa pengumuman UMA tidak serta-merta mengindikasikan pelanggaran, namun akan terus memantau transaksi dan mendorong transparansi informasi kepada pemegang saham.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 11.46
Kinerja Solid, Pendapatan KFC (FAST) Melesat 16,09% di Semester I 2026
Berita terkait
Sebulan Naik Nyaris 90%, BEI Pantau Ketat Saham Inter-Delta (INTD)
CNBC Indonesia · 25 September 2026 pukul 10.35
BEI Pantau Ketat JAWA, Ada Apa?
Warta Ekonomi · 22 September 2026 pukul 14.05
BEI Pantau Ketat 2 Saham Ini, Salah Satunya Tembus ARA
Warta Ekonomi · 21 September 2026 pukul 19.54
Usai Demutualisasi, OJK: BEI Tetap Independen
Warta Ekonomi · 21 September 2026 pukul 11.47