Harta Karun Emas 30.000 Ton di Banten Bikin Heboh, Dirampok Asing
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Wilayah Cikotok di Banten pernah menjadi pusat eksploitasi emas di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Pada 1919, pemerintah kolonial mengirim tim geologi dipimpin oleh W.F.F. Oppenoorth untuk memetakan cadangan emas yang diduga besar. Setelah berhasil membuka 25 terowongan eksplorasi, potensi cadangan bijih emas diperkirakan mencapai 30.000 ton. Pada 1933, laporan menunjukkan cadangan bisa mencapai 61.000 ton dengan nilai diperkirakan mencapai 3,68 miliar gulden. Proyek ini dilengkapi dengan pabrik pengolahan kapasitas 20 ton per hari dan sistem logistik melalui jalur Rangkasbitung dan Pelabuhan Ratu.
Eksploitasi emas di Cikotok dilakukan secara intensif sejak 1928 hingga 1939. Para buruh sering menemukan bongkahan emas dengan kadar tinggi, termasuk sebuah bongkakan seberat 126 gram. Selama masa kolonial, pemerintah Belanda mengeluarkan dana hingga 80.000 gulden per tahun untuk operasional tambang ini. Namun, keuntungan dari tambang ini tidak merata kepada masyarakat lokal, melainkan hanya memperkaya pemerintah kolonial.
Setelah kemerdekaan Indonesia, pengelolaan tambang dialihkan kepada NV Perusahaan Pembangunan Pertambangan, kemudian ke PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada 1974. Setelah lebih dari tujuh dekade beroperasi, cadangan emas Cikotok akhirnya habis dan operasional resmi dihentikan pada 2005. Meski berhenti, warisan industri pertambangan ini tetap menjadi bagian penting dalam sejarah mineral Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Geger Harta Karun Emas 30.000 Ton di Banten Dirampok Asing
CNBC Indonesia · 15 Agustus 2026 pukul 17.15
Tambang PANI Mulai Produksi, Rugi EMAS Susut, Pendapatan Naik 369 Kali
CNBC Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 10.35
Video: Freeport Bakal Gali Tambang Kucing Liar, Investasi Rp72 Triliun
CNBC Indonesia · 20 Agustus 2026 pukul 17.27
Jangan Kaget! RI Punya Cadangan Emas Raksasa Melebihi Freeport
CNBC Indonesia · 13 Agustus 2026 pukul 09.00