Jakarta · Sabtu, 12 September 2026Cari
WargaKonoha

Heboh Beda Jauh Data Kemiskinan Bank Dunia vs BPS, Ekonom UGM Bongkar Fakta Mengejutkan

Perbedaan data kemiskinan antara Bank Dunia dan BPS menciptakan polemik. Bank Dunia menyatakan 64,2 persen penduduk Indonesia berada di bawah standar kemiskinan, sementara BPS mencatat angka 8,07 persen pada Maret 2026. Menurut Wisnu Nugroho, Ph.D., dosen FEB UGM, perbedaan ini disebabkan oleh penggunaan tolak ukur garis kemiskinan yang berbeda. Bank Dunia menggunakan standar garis kemiskinan untuk negara berpendapatan menengah atas (UMIC), yakni pengeluaran di bawah 8,3 dolar AS per hari. Indonesia baru saja masuk dalam kategori UMIC dengan pendapatan per kapita sekitar 4.800 dolar AS, jauh di bawah negara-negara UMIC lainnya yang mencapai 14.000 dolar AS per kapita. Oleh karena itu, perbandingan ini tidak sepenuhnya adil karena rentang pendapatan yang sangat lebar di antara negara-negara dalam kelompok yang sama. Wisnu menekankan bahwa fokus utama seharusya bukan pada perbedaan persentase, tetapi pada realitas bahwa banyak warga yang secara statistik sudah "lulus" dari kemiskinan, namun kondisi ekonominya masih rapuh. Kelompok rentan ini dapat dengan mudah kembali miskin jika menghadapi guncangan seperti PHK, inflasi, atau penurunan pendapatan. Tingginya kelompok rentan ini mencerminkan masalah distribusi pertumbuhan ekonomi yang tidak merata. Meskipun ekonomi nasional tumbuh 5-6 persen, manfaatnya dinikmati secara tidak merata oleh masyarakat. Data BPS menunjukkan bahwa ketimpangan (Rasio Gini) di Indonesia mengikuti tren kenaikan, dari 0,36 pada September 2025 menjadi 0,368 pada Maret 2026. Ketimpangan ini lebih parah di wilayah perkotaan, naik dari 0,383 menjadi 0,387. Wisnu juga mengkritik efektivitas program pemerintah berskala besar, menyatakan bahwa anggaran yang besar tidak menjamin manfaat yang merata, karena akses program seringkali hanya dimonopoli oleh kelompok elit yang memiliki modal dan jaringan kuat.

Berita terkait