Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kenapa Banyak Lulusan SMK Jadi Nganggur?

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat pengangguran terbuka (TPT) lulusan SMK menjadi yang tertinggi di Indonesia, mencapai 7,68 persen pada Mei 2026. Angka ini melampaui lulusan SMA (6,17 persen) dan perguruan tinggi (6,09 persen), sementara lulusan SD ke bawah justru terendah dengan 2,31 persen. Padahal SMK dirancang menghasilkan lulusan siap kerja.

Ekonom CORE Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai tingginya pengangguran ini mencerminkan persoalan struktural: kompetensi pendidikan vokasi belum selaras dengan kebutuhan industri. Struktur ekonomi Indonesia masih didominasi sektor informal dan pekerjaan berproduktivitas rendah, sehingga lulusan berpendidikan rendah lebih cepat terserap. Sebaliknya, lulusan SMK cenderung mencari pekerjaan formal sesuai keahlian dengan upah lebih baik, sehingga lebih selektif. Program link and match dinilai belum optimal, kurikulum belum mengikuti perkembangan teknologi, dan praktik kerja lapangan belum merata.

Pengamat ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menambahkan, meski ekonomi tumbuh 5,29 persen, industri hanya menambah sekitar 9.000 pekerja selama Februari-Mei 2026, dengan indeks tenaga kerja manufaktur 49,92 yang menandakan kontraksi perekrutan. Sektor informal masih menampung sekitar 59,3 persen tenaga kerja, dan sepertiga pekerja bekerja kurang dari 35 jam per minggu. Ia menyarankan penyelarasan pendidikan vokasi dengan industrialisasi, pembaruan kurikulum, perluasan magang berbayar, sertifikasi kompetensi, penghentian jurusan kelebihan lulusan, serta penguatan industri padat karya dan sistem informasi pasar kerja nasional.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait