Ketika Mata Akal dan Mata Hati Bangsa Kehilangan Jarak
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini menyinggakan pentingnya kemerdekaan akademisi dan pemimpin agama sebagai 'mata akal' dan 'mata hati' bangsa. Sejarah menunjukkan bahwa bangsa yang kuat biasanya memiliki lembaga pengetahuan dan moral yang mandiri dari kekuasaan pemerintah. Jepang pada era Meiji dan laporan Murray tentang universitas menegaskan bahwa pengetahuan harus bebas untuk mengoreksi kebijakan negara. Sebaliknya, Jerman Nazi dan Indonesia di bawah Orde Baru menunjukkan bahaya ketika akademisi dan agama terlalu bergantung pada kekuasaan, sehingga kehilangan kemampuan untuk mengatakan 'negara sedang salah'.
Bagikan
Berita terkait
Gerakan Pemuda Islam Ajak Warga Tak Terprovokasi Aksi Demonstrasi
JPNN.com · 26 Agustus 2026 pukul 21.37
Gerakan Pemuda Islam Nyatakan Sikap Jelang Demo 27 Agustus, Tolak Aksi Anarkis
Liputan6.com · 26 Agustus 2026 pukul 20.00
Jelang Aksi Demo Besok, Polri Ajak Masyarakat Jaga Ruang Publik Bersama-sama
JawaPos · 26 Agustus 2026 pukul 20.00
Seruan Polri untuk Massa Demo 27 Agustus
Liputan6.com · 26 Agustus 2026 pukul 19.54