Krisis Energi Belum Usai, IMF Ingatkan Risiko Utang dan Inflasi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Dana Moneter Internasional (IMF) mengingatkan bahwa krisis energi global belum berakhir dan menekankan pentingnya pemerintah menjaga tingkat utang dan defisit fiskal tetap terkendali. Managing Director IMF Kristalina Georgieva menyatakan bahwa tekanan pasokan energi di kawasan Teluk masih menjadi tantangan, meskipun dampaknya berkurang dibandingkan proyeksi sebelumnya. Faktor penyeimbang meliputi penggunaan cadangan energi, peningkatan pasokan dari luar kawasan, serta peningkatan kapasitas energi terbarukan dan penggunaan kembali batu bara.
Investasi artificial intelligence (AI) di Amerika Serikat dan pengembangan pusat data juga menjadi dukungan bagi pertumbuhan ekonomi global. Namun, IMF memperingatkan risiko tinggi dari tiga faktor utama: meningkatnya utang pemerintah, inflasi yang sulit turun, dan ketegangan perdagangan. Kenaikan harga minyak juga berpotensi memicu kembali tekanan inflasi dan memaksa pemerintah untuk menerapkan kebijakan moneter yang ketat, yang bisa meningkatkan beban cicilan utang.
IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global tahun ini turun ke 3 persen, turun dari proyeksi sebelumnya akibat dampak krisis energi dan risiko inflasi yang masih tinggi. Harga minyak jenis Brent saat ini berada di kisaran US$80-US$90 per barel, jauh di bawah rekor US$118 per barel pada musim semi lalu. IMF akan memperbarui proyeksi pertumbuhan pada Oktober 2026 di Bangkok.
Bagikan
Berita terkait
IMF Puji Ketahanan Ekonomi Global Atasi Guncangan Energi Iran
Liputan6.com · 26 Agustus 2026 pukul 22.00
Raksasa Eropa Makin Sakit, Angka Kebangkrutan Meledak-Tembus 188 Ribu
CNBC Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 21.50
IMF Sebut Ekonomi Global Tangguh Hadapi Guncangan, Tapi Waspadai Ini
Liputan6.com · 26 Agustus 2026 pukul 13.45
Inflasi Tahunan AS Juli 2026 Sentuh 3,4%
Liputan6.com · 12 Agustus 2026 pukul 20.20