Lipstick Effect Jadi Sinyal Daya Beli Masyarakat Makin Tergerus
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Fenomena 'lipstick effect' terjadi saat masyarakat mengalihkan konsumsi dari barang mewah ke barang terjangkau akibat penurunan daya beli dan stagnasi upah riil di tengah kenaikan biaya hidup. Direktur Eksekutif INDEF, Esther Dwi Astuti, menjelaskan bahwa kondisi ini memicu penundaan pembelian aset besar seperti rumah dan kendaraan, sementara pengeluaran harian untuk kebutuhan pokok meningkat.
Tekanan ekonomi ini juga mendorong peningkatan penggunaan layanan Buy Now Pay Later (BNPL) untuk memenuhi kebutuhan pokok, bukan sekadar gaya hidup. Data OJK per Juli 2026 menunjukkan pembiayaan BNPL tumbuh 54,65% (yoy) menjadi Rp13,62 triliun, sementara pinjaman daring tumbuh 24,76% menjadi Rp105,63 triliun. Pelemahan daya beli jangka panjang dikhawatirkan terjadi jika konsumsi terus dipertahankan dengan menggerus tabungan.
Bagikan
Berita terkait
Pemerintah Kasih Bukti "Isi Dompet" Warga RI Terjaga
CNBC Indonesia · 4 Agustus 2026 pukul 17.50
Pindar Bergeser ke Konsumsi, Modal Usaha Justru Makin Terbatas
Warta Ekonomi · 24 September 2026 pukul 15.30
Bisnis UMKM Tetap Ekspansif di Kuartal II 2026, Optimisme Pelaku Usaha Masih Terjaga
Liputan6.com · 18 September 2026 pukul 09.01
Adi Prayitno Ungkap Alasan Purbaya Yudhi Sadewa Layak Diganti dari Menteri Keuangan
JPNN.com · 15 September 2026 pukul 17.08