Pindar Bergeser ke Konsumsi, Modal Usaha Justru Makin Terbatas
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pembiayaan daring (Pindar) semakin banyak digunakan untuk kebutuhan rumah tangga dan kebutuhan dasar, sementara penyaluran untuk sektor produktif dan UMKM masih terbatas. Direktur Ekonomi Digital CELIOS Nailul Huda menyatakan, hal ini terjadi akibat melemahnya kondisi ekonomi dan tekanan pada kemampuan konsumsi masyarakat. Masyarakat kini lebih membutuhkan dana untuk keperluan sehari-hari seperti makan, bukan untuk beli barang tahan lama atau menambah modal usaha.
Pembiayaan sektor produktif memang masih tersedia, namun porsinya sangat terbatas. Huda menjelaskan, pelemahan ekonomi juga memengaruhi kinerja bisnis, termasuk UMKM. Ketika penjualan dan konsumsi melambat, kemampuan pelaku usaha memenuhi kewajiban pembiayaan semakin tertekan. Selain itu, pembiayaan sektor produktif dianggap memiliki risiko yang lebih besar.
Kondisi ini membuat perbankan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit, terutama ke sektor UMKM. Indeks ritel yang menurun dan konsumsi masyarakat yang melambat menjadikan sektor ini berisiko tinggi. Akibatnya, platform dan lender enggan membiayai sektor produktif atau UMKM karena risiko yang besar.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 24 September 2026 pukul 15.31
Revisi UU KADIN Disorot, Anindya Bakrie Ingin UMKM Naik Kelas
SINDOnews · 24 September 2026 pukul 09.42
BCA Dampingi 5.000 UMKM Raih Sertifikat Halal, Omzet Rata-rata Tumbuh 8,5%
ANTARA News · 23 September 2026 pukul 22.44
OJK proyeksi NIM bank hingga akhir tahun tetap sehat dan moderat
CNBC Indonesia · 23 September 2026 pukul 16.20
Pemerintah Tebar Insentif Pajak Rp576 T di 2026, Ini Penerimanya!
Berita terkait
OJK Catat Pembiayaan UMKM Tembus Rp1.948 T per Juni 2026
CNN Indonesia · 12 Agustus 2026 pukul 14.07
OJK Ungkap Pembiayaan UMKM Sentuh Rp 1.948 Triliun
CNBC Indonesia · 11 Agustus 2026 pukul 14.50
Pembiayaan UMKM Tembus Rp 1.948 T, Tapi Banyak yang Masih Sulit Dapat Kredit
Detik.com · 11 Agustus 2026 pukul 10.03
OJK Sumut Catat Aset Bank Umum Capai Rp371,1 Triliun
Warta Ekonomi · 24 September 2026 pukul 15.40